Monday, June 11, 2012

Pada Ketetapan-NYA Menetap Kasih Sayang-NYA




Dalam suatu keadaannya adalah manusia mendapatkan suatu kepastian dari suatu keadaan sifat menetap pada sifat kemanusiaan dari kehendak-nya, adalah yang dimaksud bahwa, suatu sifat yang menetap tiadalah berubah keadaannya dari awal penciptaan-Nya, demikian pula bagi segala keadaan makhluk lainnya adalah menetap pada segala sifat yang dikehendaki-Nya, dan tiadalah berubah segala keadaannya, dan tiadalah bagi segala keadaan dari sifat manusia dan makhluk lainnya melainkan menetap pada suatu kelemahan yang pasti adanya. Maka tiadalah bagi segala sifat-Nya, melainkan pada-Nya dengan segala sifat keagungan-Nya dalam kesempurnaan kemahaan-Nya, dan adalah bagi manusia hanya mengenal-Nya dari segala sifat yang diberitakan-Nya saja (wahyu) melalui para Rasul-Nya, maka hanya itulah suatu keadaan dari-Nya bagi umumnya muslim (awam) dapat mengenal-Nya (ma'rifatul ammah/umum). Akan tetapi adalah Dia menetap pada segala rahasia yang tiadalah suatu makhluk pun mengetahui segala keadaan-Nya dari segala sifat-Nya yang lain, yaitu adalah Dia tiadalah dapat dikenal (diketahui) keadaan-Nya dengan segala keadaan dari sifat manusia, yaitu tiadalah manusia dapat mengenal-Nya, melainkan Dia-lah yang memperkenalkan diri-Nya, Maka tiadalah bagi pengetahuan ma'rifat yang ada bagi manusia akan Dia, melainkan dari segala sifat yang telah diberitakan-Nya saja.

Pada keadaan kepastian-Nya, adalah Dia mempunyai segala sifat dari sifat-Nya yang lain dari rahasia-Nya yang tidak diberitakan-nya kepada umumnya (makhluk) yang hanya Dia sendirilah pada-Nya, keadaan-Nya. Dan tiadalah segala sifat dari rahasia-Nya ini terlepas dari segala sifat-Nya dari yang telah diketahui makhluk (manusia), melainkan berpaut pada satu kesatuan dari-nya pada Al-Ahad Al-Wahid-Nya. Dan hanyalah Dia akan memberitakan-Nya sifat rahasia-Nya itu kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya (para wali-Nya) untuk suatu urusan dari-Nya, sebagai kasih cinta-Nya kepada mereka dan bagi kemaslahatan seluruh makhluk-Nya, yaitu adalah karena mereka itu sebagai panji-panji agama-Nya bagi menjaga amanah dari segala rencana-Nya akan kehidupan makhluk.

Ketahuilah..! suatu sifat tiadalah terlepas dengan segala sesuatu yang disifatinya, maka tiadalah sifat-Nya terlepas dengan segala kadaan zat-Nya pada-Nya. Maka adalah Dia menetap pada segala keadaan pada satu kesatuan sifat pada zat-Nya, tiadalah berpisah atau berlainan keadaannya. Maka tiadalah demikian halnya bagi manusia atau makhluk, melainkan menetap pada suatu sifat dari kehendak-Nya dalam suratan taqdir-Nya dan adalah segala keadaannya pada-Nya, yaitu berpaut menetap pada zat-Nya, pada asma-Nya, pada sifat-Nya, pada Af'al-Nya. 

Maka tiadalah Dia menetapkan segala sesuatu pada hamba-nya, melainkan dalam suatu qadar yang menetap ada dari suatu ketetapan awal penciptaan (fitrah) dalam suatu batas kekuatan dari-Nya. Adalah Dia mengetahui segala kemungkinan yang akan terjadi, yang pada hakekatnya Dia sendirilah yang menghendaki-Nya, maka suatu ketetapan dari-Nya bagi hamba-hamba-Nya, adalah suatu qadar yang telah dipersiapkan-Nya bagi para kekasih-Nya atas segala perjalanan dalam mujahadahnya (perjalanan bathin) kepada-Nya, sehingga tiadalah si hamba merasakan suatu usaha dari perbuatannya pada segala amalnya pada ubudiyyahnya dan gerak kehidupannya melainkan suatu rasa bathin dari suatu tingkat ma'rifat bahwa adalah Dia memberikan segala kekuatan bagi dirinya dalam sehala keadaannya, dan tiadalah segala perbuatan, sifat dan semu yang terdapat pada diri sihamba melainkan adalah Dia pada kasih sayang-Nya, maka dikatakan adalah Dia kepada kita, bersama kita, dengan kita atau pada kita, akan tetapi tiadalah kita pada-Nya, melainkan adalah Dia pada kehendak-Nya dalam kita. Adalah segala keadaan ini pada hamba-hamba yang menetap dalam karunia hidayah-Nya, yaitu dalam segala bimbingan-Nya, sehingga dikatakan menetaplah kehendak-Nya dari sifat-Nya, af'al-Nya, asma-Nya bahkan muthlaq jaiz-Nya kepada si hamba, dengan si hamba, bersama si hamba, sehingga luruslah si hamba kepada-Nya, dengan-Nya, bersama-Nya, pada-Nya. Maka tiadalah segala hal ini terjadi pada umumnya (awam) melainkan kasih sayang-Nya khusus bagi hamba-hamba-Nya.

Maka tiadalah suatu keadaan dari yang di maksud hamba dalam pada ini, melainkan dari mereka (mu'min) yang menetap dari rencana-Nya dalam awal penciptaan-Nya, yaitu bahwa adalah mereka itu para kekasih-Nya (para wali), dan sebagai bagian dari hamba-hamba yang lainnya. Dapatlah diberikan suatu pengertian dalam suatu pemahaman, bahwa tiadalah sama antara hamba dalam rencana-Nya dengan hamba pada suatu keadaan seorang mu'min yang menetap pada gemar baribadah (abid) dalam pengertian yang umum. Adalah kekasih-Nya sebagai suatu keadaan khusus dari semua ketetapan-Nya, maka adalah mereka itu sebagai ahlullah (bagian dari rencana-Nya), sehingga segala pengertian (hukum) hakekat yang ada dari-Nya pada sisi-Nya, dan kalaupun mereka tersalah, adalah pada segala aturan yang menetap pada syareat-Nya dalam suatu pandangan atau penilaian yang belum atau tidak difahami oleh umum (awam). Adalah segala keadaan ini pada rahasia-Nya, dan tiadalah suatu hukum dari pengertian pada pemahaman hakekat dapat dijalankan atau dilaksanakan pada kehidupan manusia (muslim), melainkan menetap pada syareat-Nya juga. 

Maka segala yang dimaksud bahwa para hamba-Nya tiada dapat di persalahkan, adalah karena mereka menetap pada segala jalan-Nya pada rahasia-Nya. Maka adalah yang dikehendaki bahwa jangan ada dari muslim (suatu kaum) pada suatu keadaannya dalam suatu hal yang belum atau tidak dipahaminya untuk cepat-cepat menentukan nilai yang tiada pantas (buruk) atas suatu hal dari keadaan seorang (kaum), bahwa mereka salah (menyimpang), karena tiadalah segala keadaan dari hukum hakekat-Nya melainkan menetap pada syareat-Nya jua.

Maka segala ketetapan yang di berikan kepada hamba-hamba-Nya, adalah terbagi kepada dua keadaan pada pengertian dalam pemahaman hakekat. 

Adapaun ketetapan yang pertama adalah Dia menghendaki bagi hamba-hamba yang menetap pada rencana-Nya berjalan (mujahadah) pada suatu urusan dari segala kehendak-Nya, yaitu bagi membawa atau membimbing hamba-hamba yang lain pada rahmat-Nya agar mereka menunjukinya jalan pada suatu pintu gerbang hidayah-Nya. Dan adalah bagi mereka mendapatkan suatu perintah dari suatu rahasia pemahaman bathiniyyah (Ilham) yang hanya kepadanya dan baginya saja bukan bagi yang lainnya, dan tiadalah mereka membuka halnya itu, melainkan bagi mereka yang dikehendaki-Nya. 

Maka ketetapan-Nya bagi mereka adalah sebagai perwakilan-Nya di atas bumi ini agar menyebar segala Nur rahmat-Nya, yaitu bagi keberkahan atas seluruh makhluk dan bahkan alam raya dan sebagai pasak bumi (pasak alam) agar menetaplah segala keadaan alam pada kehendak-Nya. 

Tiadalah yang memahami keadaan ini melainkan mereka yang diberikan faham pada suatu futuh dalam suatu tingkat ma'rifat kepada-Nya atas mereka. Maka adalah dapatlah di katakan sebagai ketetapan khusus-Nya (Al-Amrul Khos). Tiadalah hal ini di terima oleh hamba yang lainnya dari para awam.

Dan adapun ketetapan yang kedua adalah Dia menghendaki menarik dengan tali kasih sayang-Nya bagi hamba-hamba pada maqom (kedudukan) awam untuk berjalan (mujahadah) pada suatu wasilah dari-Nya (ubudiyyah) agar mendekat (taqorrub) kepada-Nya dan agar Dia mensucikannya dengan cara-Nya, terus dan terus (istiqomah) hingga si hamba mengenal-Nya (ma'rifat) dan mencintai-Nya, dan agar Dia memasukkan hamba-Nya itu kedalam golongan hamba-hamba yang lainnya dari para wali-Nya. Dan adalah segala keadaan ini tiadalah dapat ditolak oleh si hamba, yaitu tiadalah dapat melepaskan diri dari segala tarikan-Nya (Al-Koharur Rahman), walaupun pada awalnya mereka tiadalah mengerti akan apa yang terjadi atas dirinya, bahkan mungkin mereka merasakan tekanan-tekanan yang berat pada bathinnya yaitu sebagai ujian-Nya, namun pada akhirnya perjalanan bathinnya itu mereka menyadari bahwa adalah dia telah menetapkan baginya agar berjalan kepada-Nya walaupun dengan berbagai kepahitan dan kesakitan dalam kehidupannya bahkan mungkin berbagai penghinaan dan cela atau kebencian akan timbul dari orang lain atau bahkan orang-orang yang dekat yang di sayanginya (keluarga). adalah keadaan ini disebut sebagai ketetapan umum-Nya (Al-Amrul Am). 

Maka apabila segala keadaan ini ditempuhnya dengan sungguh-sungguh dalam keikhlasan kepada-Nya tanpa suatu pamrih kepada-Nya dari suatu urusan duniawiyyah, maka Dia akan menolongnya dengan berbagai cara-Nya dari berbagai kesulitan dan kesempitan dan mengembalikan kepadanya kasih sayang dari orang-orang yang telah memusuhinya, menghinanya, mencelanya, atau membencinya itu, sehingga menetaplah si hamba pada suatu ketentraman dan berkecukupan dari karunia-Nya, dan diangkat-Nya kepada suatu kedudukan yang terpiji pada sisi-Nya dan pada sisi manusia bahkan makhluk seluruhnya.

Dan apabila pada perjalanannya (mujahadah) terjadi suatu keadaan bathin yang selalu memberontak kepada ketetapan dari ujian-Nya dalam segala kesempitan dan berbgai perkara yang pahit dalam kehidupannya, kemudian terjadi suatu su-udzon yang menetap pada bathin (hati) kepada-Nya, maka putuslah tali tarikan-Nya dan jatuhlah si hamba pada kedudukan yang hina dan tercala pada sisi-Nya dan sisi makhluk (manusia), yaitu Dia akan meberikan suatu penyakit pada hatinya (nifaq) untuk selalu memperturutkan hawa nafsu nya bagi segala urusan dunianya, sehingga sibuk bathinnya pada dunia, dan lupa kepada-Nya, walaupun mereka beribadah kepada-Nya akan tetapi Dia telah mencampakannya dari rahmat-Nya.


Wallahu a'lam bish-shawab

No comments:

Post a Comment