Friday, June 15, 2012

Anak-anak yang Berisiko Kena Epilepsi





Di negara berkembang, insiden epilepsi pada anak berkisar antara 25-840 per 100.000 penduduk per tahun. Ada berbagai faktor risiko yang dapat meningkatkan seorang anak menyandang epilepsi.

Jenis epilepsi yang biasa terjadi pada anak adalah epilepsi idiopatik dan simptomatik. Pada epilepsi idiopatik, biasanya terjadi pada anak dengan perkembangan dan pemeriksaan fisiknya normal, terjadi pada usia tertentu dan mempunyai prognosis baik. Sebaliknya, simptomatik epilepsi dihubungkan dengan epilepsi karena ada kelainan di otak.

"Anak-anak autis, ADHD (Attention Deficit Disorder), lahir prematur, retardasi mental atau anak kembar lebih besar peluangnya menjadi penyandang epilepsi dibandingkan dengan anak normal," jelas dr Dwi Putro Widodo, Spesialis Anak dari FKUI-RSCM, dalam acara Seminar Media 'Tatalaksana yang tepat sangat diperlukan untuk mengontrol serangan pada Penyandang Epilepsi (PE) wanita dan anak' di Hotel The Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (14/6/2012).

Tapi dr Dwi menegaskan sebenarnya kemungkinan tersebut tetap masih kecil, meski dibandingkan anak normal risiko epilepsi pada anak-anak tersebut lebih tinggi.

"Anak-anak dengan kondisi tersebut risiko kelainan di otak lebih besar, sehingga risiko epilepsi juga lebih besar. Tapi makin tua usianya, kemungkinan untuk PE (penyandang epilepsi) semakin kecil," lanjut dokter yang juga berpraktik di RS Pondok Indah.

Selain karena kondisi-kondisi tersebut, epilepsi pada anak dapat disebabkan oleh berbagai jenis kelainan pada otak. Ada anak yang memang sudah memiliki epilepsi pada saat dilahirkan (congenital) dan ada pula epilepsi karena kerusakan otak yang didapat sesudah kelahiran.

Epilepsi congenital ini tidak selalu disebabkan oleh faktor genetik, hanya saja anak telah mengembangkan epilepsi pada periode fetus (janin) hingga menjadi anak di dalam kandungan. Ada kemungkinan genetik tertentu bertanggung jawab, tetapi ada pula karena faktor-faktor lain yang mengganggu perkembangan otak anak ketika dalam kandungan.

Epilepsi sesudah kelahiran didapatkan sesudah bayi keluar dari kandungan. Misalnya, ketika bayi kekurangan oksigen pada saat kelahiran atau ada pendarahan intracranial. Epilepsi mungkin juga terjadi karena infeksi pada otak (misalnya karena meningitis dan lain-lain), atau karena cedera pada otak, tumor atau pendarahan intracranial.




Sumber: detikHealth

No comments:

Post a Comment