Tuesday, February 14, 2012

Kisah Sang Pemberani




Orang-orang tangguh bukanlah mereka yang berbadan besar dan kekar, melainkan mereka yang terbiasa menghadapi beban yang berat sehingga sekalipun beban tersebut berat tetap terasa ringan.

Seorang pemberani bukanlah orang yang tidak takut sama sekali. Sebaliknya, ia bahkan sering tercekam rasa ketakutan. Bagi sang pemberani, ketakutan bukan menjadi momok yang akan menyurutkan niat dan tekad mereka untuk maju. Namun, ketakutan menjadi cambuk yang mempercepat perjalanan usaha mereka. Setidaknya, itulah yang tersirat dari buku The Pursuit of Happiness karya Chris Gardner dan Quincy Troupe. Buku yang terbit pertengahan 2007 ini memang mengisahkan tentang kesuksesan penulisnya dalam menggapai impiannya.

Tentu saja, untuk mencapainya harus melewati jalan terjal. Apa yang dirasakan Gardner seperti juga diungkapkan Napoleon Hill dalam bukunya Think and Grow Rich, di mana motivasi yang tidak akan padam adalah motivasi yang disertai afeksi-afeksi terdalam seorang manusia. Memang, buku The Pursuit of Happiness

Gardner awalnya bukanlah orang kaya, bukan pula keturunan bangsawan dan tidak berpendidikan tinggi. Tetapi, ia berhasil mencapai kesuksesan yang luar biasa setelah jatuh bangun dengan perusahaan pialang sahamnya, Gardner Rich & Company. Di bagian awal buku ini, Gardner bercerita bagaimana pahitnya hidup yang dia rasakan, baik dalam tataran pribadi maupun sosial.

Bagaimana tidak, Gardner pernah merasakan sebagai gelandangan yang terlunta-lunta tanpa tempat tinggal bersama putranya, Chris Jr. Meski begitu, Gardner selalu tetap menjaga fokus mentalnya pada tujuan-tujuan hidup yang ada di depan. Dengan keyakinan itu, Gardner merasa terlindung dari perasaan putus asa. Dia tahu persis, masa depan adalah hal yang tidak pasti. Yang jelas, dipenuhi banyak rintangan hidup dan kelokan-kelokan tajam. Tetapi, Gardner tetap bergerak maju satu kaki melangkah di depan kaki lainnya.

Gardner harus berjuang dalam hidupnya dengan bekerja di berbagai profesi. Dia pernah menjadi anggota Angkatan Laut, bekerja sebagai asisten laboratorium, dan menjadi pialang saham di Wall Street. Gardner tumbuh dan besar dalam situasi sosio-politik rasial. Hingga akhir 1970-an dan 1980-an, isu-isu rasial merupakan hal yang hangat di Amerika. Gardner tidak bisa menghindarinya.

Tidak jarang dia dicemooh orang lain hanya karena berkulit hitam. Banyak di antara mereka yang memandang penuh rendah dan curiga terhadap Gardner. Namun, Gardner bukanlah tipe orang bermental cengeng. Cemoohan bukanlah sesuatu yang berat. Gardner hidup dalam keluarga tanpa tahu ayah kandungnya. Begitu punya ayah tiri, ternyata seorang pemabuk. Dia juga pernah mengalami pelecehan seksual. Karena itu, cemoohan itu hal kecil baginya.

Dalam pemikiran Gardner, orang-orang tangguh bukanlah mereka yang berbadan besar dan kekar, melainkan mereka yang terbiasa menghadapi beban yang berat sehingga sekalipun beban tersebut berat tetap terasa ringan. Sebaliknya, orang lemah adalah mereka yang terbiasa mengangkat beban yang ringan sehingga beban yang ringan sekalipun di rasa sebagai beban yang berat. Gardner tidak pernah peduli dengan warna kulitnya sebab itu hanyalah penutup tubuh dan potensi diri yang sesungguhnya.

Meski hanyalah orang kulit hitam dan bukan orang berpendidikan tinggi, ia mampu berkarier di Wall Street, tempat para pialang saham dunia beraksi. Ia berhasil menghancurkan tembok-tembok pembatas potensinya dan benar-benar menemukan tempat yang cocok untuk dirinya. Setidaknya, buku Gardner ini memberikan gambaran bahwa kesuksesan adalah milik setiap orang.

Kesuksesan tidak didasari hubungan keturunan, tidak berkaitan dengan pendidikan tinggi dengan berbagai gelar yang panjang, dan kesuksesan sama sekali tidak ada koneksinya dengan gelar kehormatan. Sejatinya, kehidupan normal tidak akan berjalan mulus, selalu ada rintangan, dan itu bisa terjadi pada siapa pun.

"Ketika itu terjadi, ada yang perlu dipertanyakan dan dikoreksi dengan kehidupan ini. Kehidupan berjalan di antara roda-roda jatuh dan bangun, tangis dan tawa, atau gagal dan sukses. Bahkan seringkali kehidupan yang kita jalani tidak sesuai yang kita harapkan dan mengecewakan," tulis Gardner.

Dengan keyakinan itu, dalam menghadapi kehidupan yang begitu pahit, Gardner tidak kecewa. Di tengah kegetiran itu Gardner bahkan sempat menginginkan memiliki sebuah mobil Ferrari berwarna merah. Gardner sadar, untuk menginginkan "kebahagiaan" ia harus menjalani proses tempaan kehidupan yang dahsyat. Lewat keyakinan dan kerja kerasnya, akhirnya Gardner bisa memiliki mobil impiannya itu.

Apa yang dialami Gardner sebenarnya tidak terlepas dari sebuah proses kehidupan. Di mana hidup adalah proses yang sangat singkat (life is too short). Dalam waktu yang singkat itu, hidup dua tipologi manusia. Pertama, mereka yang melewati banyak waktu, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Kedua, mereka yang mengisi waktu-waktu mereka dengan karya tiada henti karena mereka sadar kehidupan ini akan cepat berlalu.

Tipologi kedua inilah yang kerap menjadi kunci utama setiap orang sukses. Di mana mereka berjuang dengan segenap usaha dan tenaga mewujudkan impian-impiannya. Setidaknya, untuk mencapai sukses tidak salah jika kita mencoba menggarisbawahi pemikiran Niestze, seseorang yang mengerti alasan hidup, ia akan mampu menyelesaikan masalah dengan cara apa pun. Umumnya, orang-orang yang meraih kesuksesan sejati memiliki pola sikap positif dalam menghadapi berbagai hal, termasuk menghadapi rintangan dan kegagalan.

Mereka juga cenderung tidak mau didikte keadaan, tidak mudah menyerah, dan fleksibel dalam menghadapi perubahan. Mereka memiliki rasa percaya diri yang kuat, kemauan, serta kemampuan untuk bekerja dengan siapa saja. Mereka akan berusaha menyelesaikan suatu masalah dengan kekuatan dan sumber daya yang dimiliki sendiri.

Terpenting, mereka memiliki integritas dan kejujuran. Namun, perlu diingat bahwa sifat-sifat atau karakter tersebut tidak terbentuk begitu saja, tapi harus dibangun sejak aw`l. terkesan subyektif..

No comments:

Post a Comment