Monday, January 27, 2014

Punya Bayi, Tunda Renovasi Rumah


Merenovasi rumah setelah bayi lahir tidak dianjurkan. Kenapa? Karena akan menimbulkan situasi dan polusi yang kurang sehat untuk bayi.

Renovasi menimbulkan polusi suara. 
Saat direnovasi, rumah akan diisi dengan berbagai macam kegiatan menyibukkan yang menghasilkan suara-suara memekakkan telinga, misalnya, teriakan “hati-hati!” atau “jangan di situ!”, suara gergaji mesin, ketok palu,  bor dinding, tukang yang mundar-mandir…Semua itu akan membuat bayi tegang. 

Udara rumah menjadi kotor.  
Material bahan bangunan seperti cat,  ter,  lem, akan menghasilkan aroma-aroma asing yang kuat, sebagian besar bersifat toksik atau racun. Tak hanya bagi bayi, bagi orang dewasa pun aroma “gado-gado” bahan kimia di dalam bahan bangunan bisa merangsang produksi selaput lendir berlebihan, infeksi pernafasan, pening, sakit kepala, mata perih,  dan mual. Tidak cuma itu. Barang-barang yang digeser dan dipindahkan saat renovasi akan membuat debu beterbangan ke mana-mana, contohnya, karpet yang dibongkar atau lemari buku yang dikeluarkan isinya. Tak kalah buruk, debu dari pekerjaan tukang itu sendiri, seperti debu dari dinding yang dibongkar, adukan semen, atau gergaji kayu, akan beterbangan dan menganggu pernapasan, menyesakan napas serta mencetus alergi. 

Bahaya kecelakaan mengintai. 
Serpihan langit-langit kamar yang rontok, lantai yang lebih licin dari biasanya, kabel listrik yang keluar dari tempatnya, ujung-ujung tripleks yang tajam,…Semuanya potensial menimbulkan kecelakaan di dalam rumah yang bisa menimpa bayi dan pengasuhnya. Meskipun para tukang sudah hati-hati dalam bekerja, risiko kecelakaan tidak bisa ditiadakan sama sekali. 

Stres pengasuh bayi. 
Bunda atau pengasuh bayi, pasti akan terkena imbas dari kegiatan renovasi rumah, misalnya, kesibukan bertambah sebab harus mengawasi tukang, istirahat terganggu akibat  suara berisik, mobilitas terhambat karena suasana  rumah “berantakan” -semua berdampak pada gangguan suasana hati, yang bisa berujung stres. 
Mobilitas bayi terganggu. Ya, karena saat direnovasi dan bayi ada di rumah, kemungkinan ia harus “dikurung” di kamar khusus agar tidak terpapar debu dan lainnya. Akibatnya, bayi tidak bisa bermain dan menjelajah ruangan-ruangan lain di rumah, sehingga   ia mudah merasa bosan. Semakin lama pengerjaan renovasi, semakin lama bayi musti diisolasi, sehingga semakin lama aktivitas motoriknya terhambat. 

No comments:

Post a Comment