Sunday, September 16, 2012

Anak Lelaki Mewarisi Risiko Stroke Kalau Orangtuanya Cerai




Dalam setiap perceraian, anak selalu menjadi korban karena menanggung beban psikologis yang lebih besar. Khusus pada anak laki-laki, risikonya bukan cuma beban psikologis tetapi juga peningkatan risiko stroke sebesar 2 kali lipat.

Peningkatan risiko stroke terutama terjadi apabila orantua bercerai saat anak laki-lakinya baru berusia 18 tahun ke bawah. Uniknya, peningkatan ini hanya teramati pada anak laki-laki sedangkan pada anak perempuan tidak memberikan pengaruh sama sekali.

Bahkan setelah dikonversi dengan faktor risiko lainnya seperti obesitas dan kebiasaan olahraga, peningkatan risiko stroke pada anak laki-laki dianggap tetap signifikan. Riwayat kesehatan orangtua diabaikan, karena partisipan yang dilibatkan berasal dari keluarga yang sehat secara fisik.

Tidak diketahui pasti mengapa perceraian bisa meningkatkan risiko stroke pada anak laki-laki. Dalam kesimpulannya, para peneliti juga menegaskan bahwa yang ditemukan hanyalah saling keterkaitan tanpa dapat dibuktikan adanya hubungan sebab akibat.

Namun diduga, kecenderungan ini berhubungan dengan kemampuan anak laki-laki dalam mengelola stres ketika menghadapi perceraian kedua orangtuanya. Pada usia remaja, anak perempuan cenderung lebih cepat matang secara emosional sedangkan laki-laki masih labil sehingga damnpak stresnya menjadi lebih besar.

Temuan ini terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Esme Fuller Thomson dari University of Toronto. Dalam penelitian tersebut, Esme mengamati riwayat keluarga pada 9.900 laki-laki dan perempuan di Amerika Serikat berdasarkan survei nasional tahun 2010.

"Mungkin para profesional kesehatan nantinya perlu memasukkan riwayat perceraian dalam keluarga untuk meningkatkan target pencegahan dan edukasi mengenai stroke," kara Esme yang mempublikasikan penelitian itu dalam International Journal of Stroke, seperti dikutip dari Livescience, Jumat (14/9/2012).

Sumber: detikHealth

No comments:

Post a Comment