Sunday, October 30, 2011

Tanya Jawab Murid & Mursyid



Sayyid Faridhal Attros Al Khindy Asy'ari


Murid adalah seorang yang mengingingkan Allah atau pencari hakikat.
Mursyid adalah seorang pembimbing spiritual.


Murid;  Siapakah Allah …?

Mursyid; Allah adalah dzat yang awal dan yang akhir dan suci lagi mensucikan. Kamu harus percaya “Yang Maha Suci” ini dan yang terlibat didalamnya, karena jika tidak maka yang suci akan menyembunyikan dirinya dibelakang selubung yang tidak dapat dilalui olehmu yang pada hakikatnya adalah selubung jiwa rendah manusia (nafs) yang menyelubungi inti wujud manusia yang abadi, kemudian memutuskannya dari penglihatan yang suci.  Ada yang harus kamu ingat, yakni; nama Allah itu menunjukkan wajah ketuhanan yang ditujukan pada ciptaan-Nya ia (Allah) dapat menjadi sarana untuk mengingatkan kembali dirimu akan kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan melalui apa yang kamu cipta dan yang kamu cari sepanjang hidupmu.  Maka capailah kesepakatan dalam kesadaranmu mengenai kesucian, yakni; dengan menyerahkan dirimu sepenuhnya kepada kehendak-Nya. Ucapkanlah olehmu; “Laa Ilaha Ilallah” agar hatimu yakin; “bahwa tidak ada Tuhan lain, selain Allah.”

Murid;  Sebatas manakah kekuasaan Allah itu …? 

Mursyid; Kekuasaan Allah itu tanpa batas dan meliputi segala sesuatu serta menyinari kegelapan eksistensi manusia didunia ini.  Allah berkuasa menghidupkan kamu dan ia berkuasa pula mematikan dirimu.  Ingatlah olehmu akan satu hal; kekuasaan Allah yang tanpa batas itu melambangkan manifestasi Yang Esa dalam yang banyak serta kebergantungan yang banyak kepada Yang Esa.  Seperti halnya dirimu, yang merupakan bagian kecil dari suatu teofani dan refleksi dari ketak-terbatasan kekuasaan dan kekayaan khazanah Tuhan yang tercipta setiap saat tanpa pernah kehabisan kemungkinan-kemungkinannya.

Murid;  Apakah Islam itu, saya mohon penjelasan dari guru…?

Mursyid; Islam diambil dari akar kata “taslim” adalah; penyerahan diri dan patuh (taat).  Maka Islam itu berarti; suatu jalan tawakkal dengan cara menyerahkan diri dalam mentaati petunjuk Allah SWT, bukan secara eksternal melainkan pula melalui hubungan bathin.  Dalam arti kata; hubungan bathin seorang hamba dengan Tuhannya dan berhubungan dengan bathin hadirat Illahi yang menenangkan sekaligus menyucikan jiwa dengan melalui perintah-Nya yang menetapkan agama Islam (dinul Islam) sebagai “pedoman ibadah kaum muslim”.  

Islam diambil dari akar kata “salaam” adalah; keselamatan, kebahagian dan kesejahteraan.  Maka Islam itu berarti; suatu jalan untuk mencapai suatu keselamatan, kebahagian, dan kesejahteraan di dunia maupun diakhirat yang berhubungan dengan kehadiran Tuhan dan intelegensi kosmik sebagai sarana untuk menyadari keberadaan Yang Maha Esa.


Islam diambil dari akar kata “sulam” adalah; titian, jembatan dan tangga untuk mencapai persatuan dengan Tuhan semesta alam. Maka Islam itu berarti; refleksi duniawi dari keadaan surgawi melalui tangga pembauran, kualitas, kekuatan dan berbagai elemen dengan kesatuan hidup individual dan masyarakat yang diatur oleh hukum Illahi (al-syari’ah).

Berkaitan pula dengan kesatuan kosmos dan apa yang ada dibalik alam dengan kesatuan prinsip ketuhanan itu sendiri “melalui titian surga” yang terkandung dalam lubuk dan pusat keberadaan manusia yang menggemakan kehadiran Tuhan dengan mengintegrasikan Islam kedalam irama-irama ibadah dan tatanan nilai yang ditentukan oleh agama.  Islam merupakan warisan masa lampau meskipun terancam punah, ia tetap dianggap sebagai realitas yang masih hidup bagi sebagian masyarakat Islam dan tetap menjadi nilai universal bagi seluruh dunia pada saat kebodohan mengancam untuk mencekik spirit Islam itu sendiri.

Karena ini merupakan tugas kaum muslimin untuk setidak-tidaknya menyadari kekurangan mereka sendiri dengan tidak menyembunyikan ketidaktahuan mereka dengan sebuah kebanggaan untuk menghancurkan segala sesuatu yang tidak diketahuinya.  Dan kejujuran, yang kini dibicarakan setiap orang, menuntut supaya seseorang tidak bersifat merusak karena kebutaannya terhadap realitas tradisi Islam yang telah kehilangan dirinya sendiri.

Islam diambil dari akar kata; “istislam” adalah memenuhi kehendak Illahi dengan secara aktif melalui ketaatan penuh dan sempurna. Maka Islam itu, berarti; kepatuhan kepada sang pencipta yang mempunyai pengaruh kimiawi pada jiwa dan memancarkan suatu keindahan yang sempurna dan meluluhkan, serta mengoyak-ngoyak hingga remuk redam sekalipun hanya untuk sesaat. Di seluruh alam semesta.  Tak seorang pun mengetahui hal seperti itu.  Mereka semuanya tenggelam dalam kekaguman.  Mereka tenggelam dalam keadaan meditasi diluar meditasi.  Maka pengertian dari penggabungan agama (addin) dan Islam (dinul Islam) adalah; suatu petunjuk dan peraturan yang telah ditentukan oleh Allah SWT.  Dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan untuk mencapai keselamatan dan kebahagaian di dunia maupun di akhirat.

Hakikat dinil Islam (agama Islam) itu sendiri merupakan pesona spiritual dari keindahan yang bagi seorang muslim merupakan “keagungan Yang Maha Benar” yang selalu menjadi pintu gerbang untuk masuk kelautan rahasia Tuhan.  

Engkau harus memandang dinil Islam sebagai bukti langsung dari Tuhan didunia yang penuh perubahan dan fana ini, karena ia merupakan sarana untuk membangkitkan kesadaran dan peringatan akan adanya dunia spiritual di dalam diri manusia.

Jadilah kamu seorang muslim sejati, yang mampu melintasi horizon esoterisme Islam yang sangat luas dengan meniupkan “ruh” baru ke dalam eksistensi material.  Maka untuk memahami dinil Islam kamu harus memahami pandangan tradisional mengenai realitas, baik kosmik maupun metakosmik, di dalam keterbatasan kamu sebagai manusia.

Oleh karena itu berhati-hatilah kamu dari bahaya kesombongan yang disebabkan oleh pembenaran diri dalam kehidupan beragama, karena masih banyak manusia-manusia anti tradisional yang memberontak terhadap sang pencipta.  Mereka memainkan peran ketuhanannya dimuka bumi dengan tanpa menundukkan dirinya kepada kehendak sang pencipta.

Murid;  Apakah ibadah itu …?

Mursyid; Ibadah adalah; pengetahuan tentang Allah SWT yang mengandung kepatuhan dan kebenaran metafisik terdalam, serta menghasilkan buah dari pohon makrifat yang mengundang selera.  Ibadah adalah suatu pengertian dan pemahaman yang tidak dapat diperoleh begitu saja, melainkan harus melintasi rintangan-rintangan perjalanan kosmik, menyeberangi jembatan peleburan dan mencapai penglihatan yang menyerap dan menyucikan jiwa yang terjerat dalam prisma nafsu, akan membuat ribuan alasan untuk menghindarkan diri dari peribadatan dan dari jilatan api penyucian.

Murid;  Apakah shalat itu …?

Mursyid;  Shalat di dalam bahasa arab, itu berarti; do’a dan di dalam bahasa syara adalah; ibadah, maka jika kamu melakukan shalat itu menandakan, bahwa kamu telah beribadah sekaligus berdo’a kepada Yang Maha Pencipta dan secara naluriah mengembalikan manusia pada keadaan primordialnya dengan menjadikan seluruh alam sebagai tempat ibadah.

Di dalam shalat terdapat; “Arbaa’a Durrat yatiimah” (empat mutiara yang tidak ada bandingannya), yaitu; takbir, ruku, sujud, jalsah dan salam.  Shalat; doa, ibadah.

Takbir; adalah awal dimulainya shalat.  Pada permulaan shalat, dimana seorang musim berdiri tegak lurus sebagai manusia primordial.  Ia menjadi imam bagi dirinya sendiri dan menghadap Tuhan dengan secara langsung tanpa perantara.  Posisi ini didasarkan pada penekanan Tuhan sebagai satu-satunya sumber segala sesuatu, pada hirarki eksistensi yang menyandarkan diri kepada Yang Maha Besar dan diatur oleh perintah-Nya, pada tingkat eksistensi yang menghubungkan dunia material dengan dunia bathin.  Seorang muslim didalam posisi berdiri tegak di awal shalatnya, menunjukan pola dasar yang selaras dan seimbang.  Juga mencerminkan keberadaan universal yang lebih tinggi dari pada segala kemungkinan yang bisa terjadi dalam alam Illahi Yang Suci dan Mensucikan.

Mushalli adalah orang yang melakukan shalat.  Pada mulanya manusia sendirilah yang melakukan shalat, melalui usaha dan upaya (mujahadah), tekad dan kemauan spiritual  (himmah), cinta (isyiq) dan kerinduan (syawq), serta rahmat Allah yang tidak terbatas dan dalam kondisi ini maka jiwa rendah (nafs) manusia diubah menjadi jiwa tinggi dalam dirinya.  Kemudian shalatnya adalah shalat tertinggi, yang didalamnya Allah Ta’ala berdoa untuk dirinya sendiri, karena tidak ada yang menyembah Allah dengan sebaik baiknya dan sebenarnya selain Allah SWT sendiri.  Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW bersabda; “Shalat tanpa dirimu adalah lebih baik dari 70 shalat.”

Berdiri awal dalam shalat merupakan suatu simbol ketenangan (mustarih).  Orang yang berdiri dengan tenang dalam shalatnya akan sampai pada kedudukan (maqam) ketenangan abadi (rahah al abad).  Ketenangan ini lahir karena dia tidak pernah memandang dirinya sebagai locus manifestasi nama Allah, melainkan selalu memperhatikan kehambaannya sendiri.

Inilah ketenangan dalam kedudukan (maqam) ketenangan abadi. Akan  tetapi, ketenangan tersebut bukanlah kedudukan (la maqam) berupa gerakan gerakan konstan yang tidak sewajarnya, yang biasa terjadi ketika seseorang tengah berdiri dengan tenang dalam shalatnya. Ketika ia sudah memasrahkan dirinya pada sang waktu, maka seorang hamba (abd) pun berada dalam ketenangan (mustarih).  Sehingga kini tidak ada lagi hal-hal yang mengganggu ketenangan dirinya dalam melakukan shalat.

Setelah ketenangan tercapai, maka jadilah sang hamba (abd) sebagai mustaslim, yaitu; orang yang secara bathiniah telah memasrahkan diri sepenuhnya pada kehendak Allah SWT.  Ini merupakan kedudukan (maqam) yang luhur dan agung, yang bisa dicapai manusia.  Kedudukan (maqam) ini hanya dapat dicapai melalui upaya tulus, tekad spiritual tinggi, cinta murni kepada Allah dan rasul-Nya. Akhirnya melalui rahmat Allah yang tak terbatas itu, sang hamba (abd) akan menjadi hamba Allah yang terpilih dan didekatkan kepada-Nya.

Setelah semuanya itu dilalui, maka jadilah sang hamba (abd) sebagai seorang muslim, yaitu orang yang memasrahkan diri kepada Allah dengan sebenar-benarnya.  Pada awalnya, muslim mengandung arti dan pengertian sebagai orang yang pasrah dengan tanpa sadar kepada Allah Ta’ala.  Hal ini dikarenakan seluruh ciptaan adalah muslim, yang setiap makhluk akan selalu berada dalam ketundukkan, akan tetapi tidak mengetahui daripada hakikat ketundukkan itu sendiri dengan sebenar-benarnya.  

Selanjutnya istilah muslim telah menjadi esensi yang hakiki dalam bentuk istislam, yakni; kondisi tunduk secara bathiniah dan sesuai dengan kehendak Allah SWT.  Disinilah sang muslim hakiki akan mengetahui dengan penuh kepastian dan keyakinan, bahwa dirinya adalah seorang hamba (abd) yang selamanya berada dalam ketundukkan dan kepasrahan total kepada Yang Maha Pencipta (al khaliq).

Jika sudah demikian halnya, maka sang hamba (abd) akan diberi berbagai karunia dan anugerah ilahi (mawahib).  Anugerah-anugerah ini berasal dari Allah Azza Wajalla yang diberikan kepada hambanya dengan tanpa sang hamba (abd) memintanya.

Ruku; posisi kedua dalam shalat, yang merupakan simbol fisik dan bersifat lahiriah.  Sekaligus merefleksikan realitas makhluk Tuhan yang berdiam pada poros eksistensi manusia diantara langit (arsyi) dan bumi (farsyi) dan akan membawanya ke pusat hakikat spiritual substansi dan keadaan primordial yang terletak di dalam diri manusia maupun alam.

Sujud; posisi ketiga dalam shalat yang melambangkan pantulan realitas bathin manusia primordial yang merupakan pasangan mikrokosmik dan realitas kosmik.  Jika kamu melakukan sujud di dalam shalatmu hal itu menyadarkanmu tentang penyucian bumi oleh makhluk paling sempurna diantara makhluk-makhluk ciptaan Allah SWT lainnya.  Maka dengan sujud dan kepasrahan total kepada Tuhan, itu berarti membangkitkan rasa kesucian melalui keheningan yang meskipun tidak wujud namun mengejawantahkan kehadiran ruh.
Jalsah; adalah posisi duduk akhir dalam shalat, disaat jiwa menuju hadhirat Illahi rabbi.  Jiwa yang membawa seorang muslim menuju pusat hakikat spiritual substansi dan keadaan primordial yang terletak di dalam diri manusia maupun alam, dengan ritme yang mengimbangi eksistensi kosmik yang menjelaskan fase-fase kehidupan manusia dan juga kosmos yang datang dari-Nya maupun yang kembali kepada-Nya. Pada saat jalsah inilah, seorang muslim memasuki kesunyian dan keheningan, untuk membangkitkan rasa kesucian serta menciptakan suatu perasaan akan kehadiran Yang Maha Esa kemanapun seseorang mengarahkan wajahnya.

Salam; posisi terakhir di dalam shalat yang berarti kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan.  Salam mencerminkan karakter “supernatural” hukum alam maupun manusia dalam keberadaan yang universal, disaat dirimu menolehkan wajah kearah kanan dan kiri.  Dua gerakan dengan dua kali salam adalah “ritme” yang mengimbangi eksistensi kosmik yang menjelaskan “fase” kehidupan dirimu dan juga kosmos yang datang dari-Nya maupun yang kembali kepada-Nya.  
Oleh karenanya dapatlah dikatakan bahwa shalat dalam pengertian yang benar adalah; suatu ritual wajib yang rukun-rukunnya dan adabnya serta ucapan-ucapan didalam shalat itu, bukanlah dibuat atau dikarang oleh manusia untuk Tuhan melainkan merupakan petunjuk atau wahyu dari Allah SWT yang dibawa oleh malaikat Jibril AS kepada Nabi Muhammad SAW agar dilakasanakan dan diajarkan pula kepada para sahabat dan para umatnya dari generasi ke generasi selanjutnya. Hal ini merupakan sebagai bukti ketaatan manusia terhadap Tuhannya dan menjalankan kewajibannya atas perintah Allah SWT, seperti yang Allah firmankan di dalam Al Qur’an;

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. 4 : 103)

Dan dalam salah satu hadistnya Rasuullullah SAW telah bersabda yaitu; “Shalat itu adalah tiangnya agama, maka siapa yang mendirikan shalat, sesungguhnya ia telah mendirikan agama dan siapa yang meninggalkan shalat sesungguhnya ia telah meruntuhkan agama.”


Murid;  Apakah fungsi shalat…?

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.Mursyid;  Fungsi shalat adalah; untuk mencegah dirimu dari perbuatan yang keji dan munkar sekaligus mengembalikan dirimu dan alam kesucian primordial (al fithrah) saat “Yang Maha Esa” menghadirkan dirinya secara langsung di dalam hati manusia dan mengumandangkan simfoni abadi di dalam keselarasan yang ada pada alam yang suci. Allah Ta’ala berfirman di dalam Al Qur’an sebagai berikut;

Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 29 : 45)

“Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. 22 : 77)

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,” (QS. 74 : 42 – 43)


Maka, lakukanlah ibadah shalat  olehmu dan bukan sebagai makhluk yang kalah melainkan sebagai wakil Tuhan dimuka bumi dan ini merupakan sebuah kesadaran akan substansi teomorfis atas dirimu, yang berdiri pada poros vertikal eksistensi alam semesta, sehingga kamu dapat berdoa serta menyeru kepada Tuhan dengan secara langsung, karena disaat dirimu melakukan shalat, berarti dirimu telah kembali ke pusat alam melalui hubungan bathin dengan prinsip-prinsip alam primordial yang luas dan teramat luas ke tingkat alam yang suci.”

Murid; Guru…! Apakah dibenarkan seseorang melakukan shalat dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah masing-masing sebagai pengganti bacaan di dalam shalatnya…?

Mursyid; Tentu saja tidak dibenarkan…! Bukankah tadi sudah saya terangkan kepadamu, bahwa shalat itu merupakan bagian dari wahyu Allah yang dibawa oleh malaikat Jibril AS kepada Rasuulullah SAW, yang sudah tentu dalam bahasa arab, karena Rasuulullah SAW sendiri orang arab, dan kitab suci Al Qur’an pun dalam bahasa arab.

Bagaimana mungkin shalat semacam itu dapat dikatakan benar…! Hanya orang yang tidak waras pikirannya saja yang menjalankan shalat dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah masing-masing.  Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman di dalam Al Qur’an; “Dan jikalau KAMI jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab, tentulah mereka akan mengatakan;“ mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya…?”  Apakah patut Al Qur’an dalam bahasa asing, sedangkan Rasuulullah SAW sendiri orang arab…?”

“Dan jikalau Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh." (QS. 41 : 44)


Murid;  Maaf Guru…!  Jika demikian halnya, lantas apa yang mendasari orang untuk melakukan shalat dalam bahasa Indonesia atau bahasanya daerah masing-masing...?

Mursyid; Baik sekali pertanyaan kamu itu…!  Memang benar, bahwa setiap segala perbuatan pasti ada sesuatu yang mendasarinya.  Dan dalam hal ini terdapat dua macam bentuk dasar orang melakukan hal tersebut.

Dasar pertama adalah; dia ingin menonjolkan dirinya untuk tampil beda agar dapat merekrut orang masuk ke dalam aliran atau ajaran yang dianutnya.  


Dasar kedua adalah; dia mengacu pada kutipan Al Qur’an surat Ibrahim ayat 4, yakni; “Kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dalam bahasa kaumnya, agar ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.  Mungkin  dengan mengacu para surat Ibrahim ayat 4 ini dia telah memberi kemudahan kepada orang lain agar tidak mendapat kesulitan ketika membaca ayat-ayat suci Al Qur’an di dalam shalatnya.  

Dalam hal ini, tetap saja kedua dasar itu salah besar, apapun alasannya.  Dan jelas sekali dia telah salah persepsi atau salah penilaian dengan firman Allah Ta’ala tersebut, karena firman itu bertujuan untuk menegur Rasuulullah SAW, ketika beliau berdakwah menggunakan bahasa arab intelek (Al Qur’an) yang memang pada waktu itu banyak dari kaumnya yang tidak mengerti dengan apa yang disampaikan Rasuulullah SAW kepada mereka.  Dan setelah turun firman Allah tersebut, barulah Rasuulullah SAW mengganti ucapannya dalam bahasa kaum daerah setempat pada setiap kali ia berdakwah.  

Insya Allah...!  jika kelak kamu menjadi seorang da’i atau tukang ceramah, sesuaikanlah ucapanmu dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah setempat agar mereka yang mendengarkan ceramahmu mudah mengerti dan mudah menangkap kemana arah pembicaraan kamu dan jangan melulu menggunakan bahasa arab, karena tidak semua orang mengerti bahasa arab, kecuali jika kamu ceramah di negeri arab, itu boleh-boleh saja.  Dan terkecuali jika kamu ingin menonjolkan diri agar terlihat pandai dalam berbahasa arab kepada mereka, kalau demikian halnya, urusan kamu dengan Allah di akhirat kelak.

No comments:

Post a Comment