Friday, October 21, 2011

JENUH



“Ketika Allah mengetahui bahwa kalian mudah jemu, maka Allah Ta’ala mengadakan beragam ketaatan yang dapat kalian laksanakan. Allah Ta’ala mengetahui bahwasanya kalian bersifat tamak, maka Dia pun melarang ketaatan yang biasa kalian kerjakan itu pada sebagian waktu, supaya ada pada kalian semangat di waktu mendirikan shalat, bukan hanya sekadar shalat, karena tidak setiap orang yang shalat itu men-DIRI-kan shalat itu. “

Terus menerus melakukan ibadah itu kadang-kadang membuat orang jadi jenuh, atau jemu dalam suatu kondisi tertentu. Allah Ta’ala yang Maha mengetahui perihal yang dialami oleh para hamba-Nya, telah menyediakan waktu-waktu tertentu yang dilarang mengerjakan ibadah pada waktu itu, atau menyediakan waktu-waktu yang membolehkan seorang hamba tidak perlu mengerjakan ibadah sebagai keringanan atasnya.

Dua sifat manusia dalam ibadah adalah kejenuhan dan kesenangan hingga seperti orang yang tamak, terus menambah ibadahnya yang penuh ketaatan. Allah Swt.mengetahui sifat-sifat para hamba-Nya dengan menyediakan waktu bagi si hamba agar dapat dimanfaatkan guna meringankan kondisinya agar tidak menjadi jenuh karena kesenangan melaksanakan ibadah. Sesungguhnya dua hal tersebut adalah juga dua kenikmatan yang besar bagi si hamba, termasuk kelonggaran yang diberikan Allah bagi hamba-Nya ketika ia melaksanakan ketaatan ibadahnya.

Allah Swt. mewajibkan seorang hamba melaksanakan ibadah itu, hendaklah pula dilaksanakan dengan penuh kesadaran, keikhlasan, namun harus pula disesuaikan dengan kemampuan dan kondisinya. Allah Swt. mengizinkan manusia dan memberinya kelonggaran untuk tidak menjalankan ibadah pada beberapa waktu tertentu, agar tidak sampai ibadah itu memberatkan mereka, sehingga mereka menjadi jemu, apalagi membosankan.

Dalam melaksanakan salat umpamanya, ada waktu yang dilarang, seperti ketika matahari sedang di tengah ubun-ubun, atau lurus di atas garis katulistiwa hingga ia bergeser. Waktu setelah Subuh, waktu setelah Asar. Diringankan pula bagi para hamba (rukhsah) di waktu bepergian (musafir), sehingga boleh menjama’ atau mengqashar, atau tidak perlu berpuasa dalam suatu kondisi. Dengan demikian para hamba Allah tidak menjadi kemu, atau jemu.

Demikian pula dengan adanya beraneka ragam ibadah yang wajib dan sunat, akan memberi kesegaran beribadah dan pergantian suasana dari satu ibadah kepada ibadah lainnya. Ketaatan kepada Allah dalam beribadah dapat membuat manusia selalu dalam suasana yang menyenangkan.

Dari situ ibadah kepada ibadah lainnya dengan pergantian suasana yang menyenangkan itu, maka si hamba akan tetap tekun ibadahnya, tetap berada di dalam suasana ketaatan dan menjadikan semua ibadahnya itu suatu kenikmatan yang tidak ada taranya.

Dalam pada itu ibadah selalu merupakan perisai untuk menghindarkan si hamba dari sifat-sifat riya’, angkuh dan perbuatan maksiat yang menyesatkan.

Shalat dalam kaifiat dan zikirnya, apabila dikerjakan dengan sesungguhnya dan sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad Saw., maka salat akan memberikan kenikmatan dan kebesaran bagi jiwa si hamba. Salat itu tidak semata-mata suatu wujud yang kosong dan tidak berarti, akan tetapi salat harus mampu mewujudukan jiwa dan ruh insani yang mengangkat si hamba lima kali sehari semalam berhadapan secara akrab dengan Allah Swt. Seperti dikatakan oleh Sayid Abul Abbas Al Mursy, yakni mengembalikan salat itu pada pengertian yang sebenarnya yaitu mendirikanya bukan semata-mata mengerjakannya saja, bukan pada bentuk shalat saja akan tetapi jiwanya salat. Kalimat AQIMUSSHALAH atau YUQIMUNASSHALAH, harus lebih bermakna bagi MUSHALLIN, raga dan jiwanya. Agar apa yang diingatkan Allah Ta’ala dalam surat Al Ma’un, “Celakalah para Mushallin, ialah orang yang lalai dalam salatnya sendiri. “Salat seperti ini adalah salat yang terpisah antara lahir dan batinnya. Salat yang tidak terpelihara raga dan ruhnya, yang jauh dari makna salat yang benar.

Shalat yang bermakna dan memiliki pengaruh bagi kehidupan lahir dan batin manusia ialah salat yang sesuai dengan sunah Nabi Muhammad Saw., seperti sabda beliau: “SHALLUU KAMAA RAITMUUNI USHALLI” (salatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku salat). Artinya salat yang sesuai dengan syari’at dan sunah Nabi Saw.

Shalat bisa kehilangan wajahnya dan bisa kehilangan ruhnya apabila dikerjakan secara acak-acakan. Shalat yang benar hendaklah selalu berada dalam keadaan konsentrasi jiwa ( hudur dan khusyu’). Selain itu si hamba yang mendirikan shalat, hendaklah berada di dalam keadaan tegak berdiri di hadapan Allah Ta’ala. Agar si hamba selalu dalam keadaan hudur dan khusyu ; maka hendaklah seperti hamba yang berharap memandang Al­lah (melihat Allah), kalau tidak mampu melihat Allah, maka ketahuilah bahwasanya Allah selalu melihatmu. Demikian juga mushalli hendaklah merasakan ketenangan jiwa apabila setelah selesai shalat, dan merasakan kenikmatan dalam keadaan shalat.

Hamba Allah (musallin) hendaklah menjadikan shalat itu tempat ia berdialog dengan Allah Ta’ala, dan menjadi karunia besar yang tidak ada bandingnya. Karena shalat adalah pembersih lahir dan batin si hamba, serta penyuci kalbunya dari dosa dan kesalahan.

Syekh Ataillah mengingatkan:

“Shalat itu menyucikan hati manusia dari kekotoran dosa, dan pembuka pintu kegaiban. “

Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi Muhammad Saw., bahwasanya beliau bersabda, “Perumpamaan bagi hamba yang shalat, bagaikan sungai yang mengalir di depan pmhi si hamba. Ia mandi lima kali dari air sungai itu setiap hari. Nabi Saw. bertanya, Adakah sisa kotoran yanq kamu lihat dari hamba seperti ini?. ‘Sahabat-sahabat menjawab, `T’idak mungkin ada sisa kotoran sedikit pun. ‘Lalu Nabi Saw menerangkan, “Demikian juga adanya bagi hamba yang salat lima waktu sehari semalam, akan membersihkan kotoran dari dirinya lahir dan batin. “

Hendaklah pula shalat itu dapat membuka pintu kegaiban, yang akan mengantarkan seorang hamba kepada pemahaman ma’rifat yang tinggi. Karena hati itu apabila telah bersih dan suci dan semua kotoran, ia akan membuka tabir yang menutup mata kepala manusia menjadi terang benderang, memandang kemahakuasaan Allah.

Allah Yang Maha Perkasa itu akan membuka kerahasiaan alam semesta ini bagi hamba-hamba yang mendekati dan merebahkan keharibaan-Nya.

Sudah dijelaskan bahwa shalat adalah tempat seorang hamba ber­munajah (berdialog) dengan Allah Swt., menyampaikan segala harapan dan ampunan, keluh kesah dan kesusahan, memohon perlindungan dan menerima kasih sayang serta menumbuhkan kecintaan dari Allah Swt.

Di dalam shalat itu akan ditemukan seluruh rahasia hidup, dan membuka lebar-lebar pintu kehidupan dan kenikmatannya.
 Syekh Ahmad Ataillah menjelaskan:

"Shalat adalah tempat bermunajahnya seorang hamba, tem­pat membersihkan hati dari bermacam macam kotoran, ter­bentang pula di dalam shalat itu medan kerahasiaan Allah, dan memancarkan dari dalamnya cahaya yang menyinari hati dan pikiran si hamba yang sedang shalat. “

Karena shalat sebagai tempat bermunajah, maka di tempat itulah seorang hamba memohon maaf dan perlindungan kepada Allah Swt. Maaf dari kesalahan yang telah dilakukannya, lalu bertobat untuk tidak mengu­langinya lagi, baik dosa besar ataupun dosa kecil. Perlindungan, adalah memohon kepada Allah agar terlindung dari bahaya dan malapetaka, terhindar dari perbuatan dan amal yang merusak diri, seperti maksiat dan munkar.

Dengan mendirikan shalat, Allah Ta’ala akan membuka kalbu orang mukmin, memberi cahaya hidup dan memberkati perjalanan di dunia dan di akhirat. Selain itu, hamba yang mendirikan shalat, apabila ia k¢rjakan dengan penuh ingat kepada Allah, tidak lalai, dan selalu hadir hati dan pilarannya maka ia akan mendapatkan kelezatan (halawah) dan shalatnya itu. Akan tetapi, apabila tidak dikerjakannya secara khusyu; bukan kelezatan yang ia peroleh, akan tetapi was-was dan kerugian.

Shalat itu memang untuk mengingat Allah, seperti firman-Nya dalam surat Taha ayat 14, “Mendirikan shalat adalah untuk mengingat Allah. ” Mendekatnya seorang hamba kepada Al Khaliq melalui salat, dengan munajah-nya yang tetap dan terus menerus, membuat seorang hamba akan semakin dekat dengan Allah. Karena hanya Allah sajalah tempat menyembah dan tempat ia memohon pertolongan.

Kemuliaan seorang yang beriman adalah ketika ia sedang mendirikan shalat. Ketika shalat itulah akan nampak dirinya dihadapan Allah sebagai manusia yang sangat kecil, akan tetapi memperoleh keberkatan dan rahmat, karena ia mampu menghadirkan jasmani dan ruhaninya dalam satu dia­log yang erat dengan Allah Ta’ala. Dialog itu akan mempengaruhi seluruh hidupnya, apabila ia mampu berkonsentrasi dalam hudur dan khusyu’

Di dalam satu khabar diriwayatkan bahwasanya, “Apabila seorang hamba telah berdiri untuk shalat, maka terbukalah baginya hijab antara dirinya dengan Allah Ta’ala. Saat itu para Malaikat berdiri di atas kedua bahunya hingga mencapai langit, mereka bermakmum kepada salatnya dan mengaminkan doanya. Sedangkan orang yang sedang shalat memperoleh taburan rahmat Allah dari langit, sampai ubun-ubunnya, maka terdengarlah suara, “Jikalau orang yang bermunajat dalam shalatnya itu mengetahui siapa yang diajak berdialog itu, tentu ia tidak akan menghentikan salatnya. “Ketahuilah bahwasanya pinyu-pintu langit terbuka menerima doa yang salat, dan Allah Ta’ala sangat membanggakan di hadapan para malaikat-Nya akan para hamba yang sedang mendirikan salat. “

Sedangkan di dalam Kitab Taurat tertulis, “Wahai anak Adam, janganlah engkau malas berdiri dihadapan-Ku mendirikan shalat dengan menangis. Akulah Allah Ta’ala yang telah menghampiri hatimu, dan dengan kegaiban kamu telah melihat cahaya Ku. Allah Ta’ala telah memberikan karunia kepada orang-orang yang salat, sehingga mereka dapat memandang Al­lah dengan hati mereka.

Telah berkata Muhammad bin Ali At Tirmidzi, bahwa Allah Ta’ala memanggil ahli Tauhid (Muwahhidun) agar mendirikan salat lima waktu, sebagai rahmat Allah kepada mereka. Allah Ta’ala menyediakan bermacam­-macam hidangan, agar seorang hamba dapat merasakan pada setiap bacaan dan gerakan sebagai karunia. Gerakan salat itu ibarat makanan dan bacaannya, ibarat minuman. Hidangan ini disediakan oleh Allah Rabbul ‘Alamin bagi orang yang memperoleh rahmat-Nya, pada setiap hari lima kali. Sehingga tidak ada lagi kotoran dan dosa yang melekat di badannya!.

Abu Thalib Al Makky berkata, “Apabila ibadah shalat telah mulai didirikan, maka terbirit-biritlah setan, karena takutnya. Tiada tempat bagi Iblis untuk menggoda hamba yang sedang shalat. Karena seluruh jasad dan hati mushallin penuh dengan sinar pandangan kekuasaan Allah yang perkasa. Apabila si hamba mengucapkan Allahu Akbar, maka para Malaikat menghidupkan hati si hamba dengan keagungan Allah. Para Malaikat itu mengucapkan, “Benar, engkau telah mengucapkan Allahu Akbar.” Terpancar dari hati orang yang salat itu cahaya, seperti cahaya yang menguasai langit dan bumi dari wajah Allah Ta’ala. Maka ditulislah untuk orang tersebut banyak kebaikan.

Apabila wudu’ dan shalatnya dilakukan dengan sempurna, khusyu’dan tawadu ; penuh keikhlasan hanya karena Allah semata. Sedangkan orang yang lalai dalam salatnya (tidak sempurna wudu’ dan salatnya), apabila ia berdiri salat, ia dikerumuni oleh setan, seperti lebah mengerumuni sarangnya. Apabila ia ber-takbir, para Malaikat menghindari hati si hamba, karena kosong hatinya dari mengingat Allah. Apabila ia mengucapkan Allahu Akbar, para Malaikat mengatakan, “Engkau berdusta, hatimu tidak yakin kalau Allah Maha Besar.” Maka tampaklah awan gelap menutup hati orang itu. Itulah Hijab yang menutup salatnya, karena setan telah bertengger di dalam dadanya. Yang diperolehnya hanyalah keraguan atas ibadahnya, sampai ia selesai dari salatnya!”

Adapun para hamba yang menjaga kesempurnaan salatnya sesuai dengan sunah Nabi Muhammad Saw. akan selalu pula terpelihara dan terhindar dari godaan setan yang tetap mencari kesempatan di kala hamba Allah sedang mendirikan salat.

Setan hanya akan mampu menggoda para hamba yang lalai dalam MENDIRIKAN sholat, tidak KHUSYU' dan rusak sholatnya karena BERCAMPUR BAUR dengan RIYA'

No comments:

Post a Comment