Monday, September 19, 2011

Menyikapi Makhluk Lain



"Ya Abu Hurairah, sayangilah semua makhluk Allah, maka Allah akan menyayangimu dan menjagamu dari neraka pada hari kiamat." Aku bertanya, "Ya Rasulullah, aku pernah menyelamatkan seekor lalat yang jatuh ke air." Jawab Rasulullah, "Allah mencintaimu. Allah mencintaimu. Allah mencintaimu." (Nasihat Rasulullah SAW pada Abu Hurairah)

SUATU hari, Rasulullah berkisah kepada para sahabat yang tengah berkumpul. Ia mengisahkan tentang seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil tengah berjalan di bawah terik matahari, dengan rasa rasa haus yang amat sangat. Ketika ia melihat ada sebuah sumur, maka ia segera turun dan mengambil airnya untuk diminum. Setelah hausnya terpuaskan dan laki-laki itu hendak meninggalkan tempat itu, ia melihat seekor anjing yang sedang kehausan. Anjing itu menjilat-jilat pasir karena hausnya.

Dalam hatinya, laki-laki ini mengatakan,"Anjing ini menderita kehausan, sebagaimana aku." Akhirnya, ia kembali turun ke sumur dan memenuhi sepatu kulitnya dengan air, dan diberikanlah kepada binatang malang itu.

Rasulullah SAW setelah membawakan kisah ini bersabda, "Maka Allah memujinya dan mengampuninya."

Mendengar kisah tersebut, para sahabat bertanya,"Wahai Rasulullah, apakah benar-benar kami memperoleh pahala karena binatang?" Rasulullah pun menjawab, "Di setiap hati yang lembab ada shadaqah."

'Hati yang lembab' adalah perumpamaan terhadap makhluk hidup apapun. Makhluk yang mati, hati dan badannya mengering. Sebab itulah, Imam An Nawawi menyimpulkan dari kisah di atas bahwa berbuat baik kepada binatang hidup, baik memberi minum atau lainnya merupakan sebuah bentuk shadaqah (Syarah Shahih Muslim, 7/503).

Jelas, dari keterangan di atas, Islam amat memuliakan binatang. Memenuhi kebutuhan binatang pula dihitung sebagai sebuah shadaqah, sebagaimana juga memberi kepada manusia, karena kedua-duanya 'berhati lembab'.

Hal yang sama disebutkan Rasulullah,

Seorang Muslim tidak menanam tanaman, hingga memakan dari tanaman itu manusia, binatang atau burung, kecuali merupakan shadaqah baginya, hingga datang hari kiamat. (Riwayat Muslim)

Sayang Terhadap Binatang Termasuk Ajaran Islam

Islam adalah ajaran yang menebarkan kasih sayang dan rahmat kepada seluruh alam semesta. Tidak hanya membatasi kasih sayang hanya kepada sesama manusia saja, namun makhluk lain juga harus mendapatkan imbas rahmaniyah dari ajaran Islam ini. Hal ini disebabkan karena Allah telah menciptakan kehidupan binatang bersinggungan dengan kehidupan manusia, bahkan mempermudah kehidupan manusia.

Allah telah berfirman,

"Dan binatang ternak telah diciptkan-Nya untuk kalian, padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, serta sebagiannya kalian makan. Dan kalian memperoleh keindahan padanya, ketika kalian membawanya kembali ke kandang dan ketika kalian melepaskannya. Dan ia mengangkut beban-beban kalian ke suatu negeri yang kalian tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Rabb kalian benar-benar Maha Pengasih dan Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, baghal dan keledai untuk kalian tunggangi dan sebagai perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kalian ketahui. " (An Nahl [16]: 5-8)

Dalam sejarah peradaban Islam sendiri, hubungan harmonis antara manusia dengan binatang terjalin dengan baik, sebagaimana eratnya hubungan antara Ashabul Kahfi dengan anjing mereka. Demikan pula Rasulullah, beliau juga berhijrah dengan onta setia beliau yang nama Al Qashwa`, disamping beliau juga memiliki beberapa onta lain yang bernama Al Adhba` dan Al Jadm. Seorang sahabat dalam kisah pembuka di atas, aslinya bernama Abdurrahman bin Shahr. Ia gemar membawa kucing kecil di sakunya, hingga Rasulullah memberikan panggilan kesayangan untuknya dengan sebutan Abu Hurairah, yang artinya 'ayah kucing'.

Islam sebagai ajaran yang menekanan kepada pemeluknya untuk menyayangi binatang sebenarnya sudah tercermin dalam pembahasan dasar masalah fiqih, yakni masalah thaharah (bersuci), dimana kita sebagai Muslim, dilarang buang air besar atau air kecil ke dalam lubang, merujuk kepada hadits yang diriwayatkan Abu Dawud. Ada ulama yang menyebutkan bahwa di dalam liang biasanya ada binatang-binatang kecil. Dengan buang air di tempat itu, maka hal itu bisa menzalimi binatang-binatang tersebut. (lihat Mughni Al Muhtaj, 1/61)

Masih masalah thaharah, bahkan kita sebagai Muslim diwajibkan meninggalkan wudhu dan melakukan tayammum sebagai gantinya, seandainya ada binatang muhtaram yang kehausan, sementara persediaan air sangat terbatas. Binatang muhtaram adalah binatang yang tidak diperintahkan untuk dibunuh. (lihat, Mughni Al Muhtaj, 1/130).

    Kita sebagai Muslim diwajibkan meninggalkan wudhu dan melakukan tayammum sebagai gantinya, seandainya ada binatang muhtaram yang kehausan, sementara persediaan air sangat terbatas.

Adab kepada Binatang Tunggangan

Disamping secara umum menganjurkan berbuat baik kepada binatang, secara spesifik, Islam menjelaskan bagaimana seharusnya para pemilik binatang tunggangan memperhatikan beberapa hal, hingga tidak ada pihak yang terzalimi.

Islam melarang seseorang memaksa binatang untuk mengangkut beban berat diluar kemampuan hewan itu, sebagaimana diriwayatkan oleh At Thabarani, "Jika kalian melihat tiga orang naik binatang tunggangan, maka lemparlah mereka, hingga salah satu dari mereka turun."

Sebagaimana Rasulullah berpesan kepada para pemilik kendaraan agar memperhatikan makanan binatang tunggangan mereka. "Jika kalian melakukan perjalanan di daerah subur, maka berilah makanan ontamu dari daerah itu dan jika kalian melakukan perjalanan di daerah paceklik, maka percepatlah, hingga tidak membahayakannya." (Riwayat Muslim)

Tentu, jika mereka masih berada di wilayah gersang, dan tidak ada makanan untuk onta mereka, maka keadaan demikian mengancam kehidupan binatang tersebut.

Binatang Pun Mengeluh

Kenapa Islam menjauhkan pemeluknya dari pebuatan zalim terhadap binatang? Karena binatang itu seperti manusia. Ia juga merasakan lapar, haus, lelah atau sakit jika terzalimi. Rasulullah pernah memperoleh pengaduan dari beberapa binatangyang memperoleh perlakukan tidak baik dari pemiliknya. Sebagaimana termaktub dalam Shahih Muslim, Rasulullah pernah berkisah, bahwa beliau menemui seorang laki-laki yang menarik sapi untuk mengangkut. Sapi itu menoleh kepada beliau dan mengatakan, "Demi Allah, aku tidak diciptakan untuk hal ini, namun untuk membajak."

Dalam hadits lainnya yang diriwayatkan Abu Dawud disebutkan,

    Suatu saat Rasulullah memasuki sebuah kebun milik sahabat Anshar. Di kebun itu terdapat seekor onta, yang tiba-tiba matanya mengeluarkan air mata ketika melihat Rasulullah. Akhirnya beliau bertanya,"Siapa pemilik onta ini?" Saat itu seorang pemuda datang dengan mengatakan,"Saya wahai Rasulullah." Beliau pun menyampaikan,"Apakah engkau tidak takut kepada Allah mengenai binatang ini? Sesunggunya ia mengadu kepadaku, bahwa engkau membiarkannya lapar dan terus-menerus mamaksanya bekerja." (H.R. Abu Dawud)

Tidak Menghina Binatang

Yang terlarang dalam Islam bukan hanya menzalimi binatang secara fisik, namun merendahkan ataun mencelanya juga dilarang, karena binatang pun termasuk ciptaan Allah Ta'ala. Pernah suatu saat Rasulullah menjumpai wanita yang tengah melaknat onta yang ia tunggangi, hingga akhirnya beliau menghukum wanita tersebut, sebagaimana disebutkan Imam Muslim.

Imam Al Ghazali juga melarang merendahkan ciptaan Allah termasuk hewan, tatkala beliau membahas mengenai hal penjagaan terhadap mulut. (lihat Al Maraqi Al Ubudiyah, hal.69)

Sikap Para Ulama terhadap Binatang

Imam Abu Ishaq As-Sirazi. Suatu saat, tokoh besar dalam madzhab As Syafi'i ini berjalan bersama beberapa sahabatnya. Tiba-tiba ada seekor anjing berjalan di depan rombongan itu. Menyaksikan hal itu, salah seorang anggota romongan menghardik anjing tersebut. Mengetahui hal itu Abu Ishaq melarangnya dan menasehati,"Apakah engkau tidak tahu bahwa anjing itu dan kita sama-sama berhak menggunakan jalan ini?" (Al Majmu`, 1/45).

No comments:

Post a Comment