Friday, September 9, 2011

Ihwal Keadaan Mistis (Hal) dan Kedudukan (Maqam)



Dalam pandangan kaum sufi, keadaan mistis (hal) berarti kejadian tersembunyi yang datang dari alam lebih tinggi, kadang­kadang turun ke hati penempuh jalan sufi, datang dan pergi, sampai ketertarikan Ilahi membawanya dari tahapan paling rendah menuju tahapan paling tinggi. Kedudukan (maqam) bermakna tingkatan Jalan yang ditempuh oleh sang penem­puh jalan sufi, menjadi tempat berdiri baginya, dan tidak me­rosot. Hal (yang berkaitan dengan titik tertinggi) tidaklah di­kuasai oleh sang penempuh jalan sufi, tetapi justru hal ini yang menguasai diri sang penempuh jalan sufi. Maqam (yang ber­kaitan dengan titik terendah) adalah tempat yang dikuasai sang penempuh jalan sufi.


Kaum sufi mengatakan, “Hal adalah anugerah (mawhab), dan maqam adalah perolehan (kasb).” Tak ada maqam yang tidak dimasuki hal; dan tidak ada hal yang terpisah dari kesatuan dengan maqam. Tentang hal dan maqam, sumber perselisihan adalah bahwa sebagian syaikh sufi menyebut ini hal; dan seba­gian lagi, maqam. Sebab, semula seluruh maqam adalah hal; Dan akhirnya adalah maqam, seperti tobat (tawbah), mawas diri (muhasabah), dan renungan disertai rasa takut (muraqabah). Semula, masing-masing adalah sebuah hal yang mengalami perubahan dan penurunan; dan ketika mendekati perolehan (kasb), la menjadi maqam; segenap hal diterangi oleh berbagai perolehan (makasib) dan segenap maqdm oleh berbagai anuge­rah (mawahib). Dalam hal, anugerah bersifat lahiriah, peroleh­an bersifat batiniah: dalam maqam, perolehan bersifat lahiriah, dan anugerah bersifat batiniah.

Syaikh-syaikh dari Khurasan mengatakan, “Hal adalah wa­risan amal.” `Ali ibn Abi Thalib mengungkapkan, “Jangan ta­nyakan kepadaku tentang jalan kesatuan dengan hal (yang me­lalui keluhuran berhubungan dengan langit).”

Berbagai maqam itu adalah: tobat (tawbah), kezuhudan (zuhd), kesabaran (shabr), dan sebagainya. Semuanya ini adalah sarana bagi turunnya hal.

Beberapa syaikh menegaskan:

a) bahwa hal adalah sesuatu yang tidak diam dan tidak mengikat. Ia muncul seperti kilat dan segera hilang. Jika berbekas, la menjadi hadits an-nafs;

b) bahwa selama tidak berbekas, maka yang demikian itu bukan hal. Sebab, diam memerlukan ketetapan; bahwa sesuatu yang berkilau seperti kilat dan kemudian padam sesungguhnya bukanlah hal. Inilah tarekat keagamaan Syaikh Syihabuddin Suhrawardi.

Jika hal berbekas, maka la bukanlah sumber hadits an-nafs. Sumbernya adalah hal lemah, yang, sewaktu berkilau, dikuasai oleh nafs; hal yang kuat tidak pernah terbiasa dengan nafs. Mereka menyebut setiap kejadian yang berkilau seperti kilat dan padam dalam hal dalam idiom sufi sebagai jelas (la’ih), berkilau (lamih), terbit (thali`), meledak (thariq), dan tampak (badih). Manifestasinya diikuti dengan penyembunyian. Demi­kianlah apa yang dikatakan oleh Abu `Utsman Ha’iri.

Ini mengisyaratkan pada keridhaan (ridha) yang terus-me­nerus, dan keridhaan yang pasti berasal dari semua hal. Kemu­dian, hal yang terus-menerus tidaklah perlu bagi hadits an-­nafs. Mungkinkah meninggalkan satu maqam (yakni, tempat berpijaknya) sebelum beranjak ke tahapan lebih tinggi? Junayd mengatakan, “Mungkin saja bagi seorang hamba untuk naik ke hal yang lebih tinggi sebelum hal pertama selesai diram­pungkannya. Lalu, la beroleh informasi tentang hal pertama dan memperbaikinya.”

Abdullah Anshari mengatakan, “Mustahil bagi seorang pe­nempuh jalan sufi memperbaiki suatu maqam sebelum ia me­lihat maqam yang lebih rendah dari maqam yang lebih tinggi, beroleh informasi tentangnya, dan lalu memperbaikinya.”

Syaikh Syihabuddin Suhrawardi mengatakan, “Tidaklah mungkin naik ke maqam yang lebih tinggi sebelum memper­baiki maqam (yakni, tempat berpijaknya) sebelumnya. Namun, sebelum beranjak naik, dari maqam yang lebih tinggi turunlah hal yang dengan itu maqam-nya menjadi kenyataan. Karena itu, kenaikannya dari satu maqam ke maqam lainnya terjadi dise­babkan oleh kekuasaan Allah dan anugerah-Nya, dan bukan oleh usahanya sendiri. Sepanjang bukan dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi, maka kenaikan dan kemajuan tidak bakal terjadi; tidak ada hal yang turun dari yang lebih tinggi ke yang lebih rendah.”

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa seorang hamba ha­ruslah mendekati Allah agar Dia mendekati sang hamba.


Sumber: Awarif Al-Ma’arif

No comments:

Post a Comment