Thursday, May 19, 2011

Harapan (NEGATIF) Merusak Diri



'Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.' (QS. ath-Thalaq : 2-4).


Kita sebagai manusia seringkali menyebut dirinya sebagai makhluk yang lemah sehingga bisa melakukan hal-hal yang tanpa disadarinya bisa merusak diri sendiri. Bila hatinya sudah tersakiti, mendapat cobaan, diuji atau ditimpa musibah oleh Allah atau hatinya disakiti hal itu bisa menyebabkan perbuatan yang tidak rasional seperti merusak diri sendiri, merusak orang lain dan bahkan ada yang sampai mengakhiri hidupnya.

Memang hidup anda sekarang terasa berat tetapi yakinlah anda masih bisa melewatinya. Allah tidak menyukai orang2 yang berputus asa.

Kebahagiaan dan kesedihan selalu datang silih berganti,
Jadi janganlah bersedih hati,
yang anda perlukan sekarang adalah ketegaran dalam menghadapi kehidupan,
niscaya anda mendapatkan kebahagiaan.

'Katakanlah: Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' (QS. az-Zumar : 53).


Merusak diri sendiri lebih disebabkan harapan negatif pada dirinya.

Ada tiga hal cara pandang yang kemudian memunculkan harapan negatif.
Pertama, diri sendiri (self).
Kedua, dunia (world).
Ketiga, masa depan (future).

Orang yang memiliki harapan negatif karena cara pandang negatif tentang diri sendiri dan masa depan. Mereka yang berputus asa dan patah semangat menilai dirinya sebagai manusia yang tidak berdaya dan tidak memiliki kemampuan serta merasa tidak memiliki kesempatan hidup bahagia dimasa mendatang. Munculnya cara pandang negatif tentang diri sendiri dan masa depan yang melahirkan harapan negatif sehingga mampu merusak diri sendiri maupun merusak orang-orang di sekelilingnya.

Harapan negatif bersemayam dibenak dan pikiran orang yang berputus asa disebabkan adanya perbedaan antara kenyataan diri (actually self) dengan semestinya yang dicapai oleh dirinya sendiri (ideal self). Upaya membandingkan realitas yang ada pada dirinya dengan cita-cita ideal yang dipatokkan untuk dirinya sendiri menjadi pemicu harapan negatif.

Contohnya, seorang istri yang menggambarkan sempurna sosok suami, mencintai keluarga, pekerja giat, santun dan karier yang melejit sampai pada suatu hari bertubi-tubi Allah memberikan hal-hal yang tidak disukai dan nggak pernah di bayangkannya sebelumnya , sang istri merasakan suami tidak seperti yang dibayangkan sehingga kenyataannya menjadi tidak sama dengan apa yang semestinya dan idealnya dalam benak sang istri.

Ketidaksamaan antara yang ada dan yang semestinya ada disebut dengan 'actual ideal self discrepancy.' pola pikir dan cara memandang diri seperti ini akan berdampak buruk pada pikiran dan perilakunya, yang bisa merusak dirinya sendiri dan orang-orang di sekelilingnya.

Bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah akan tetap bersemangat, optimis dan percaya diri maka semua pola pikir semacam itu tidak akan muncul bahkan dibuang jauh-jauh dari hidup mereka.

Perbedaan antara yang telah ada pada dirinya dan apa yang semestinya ada, tidak lantas mengecilkan nyalinya & tidak menghilangnya semangat tetapi malah sebaliknya perbedaan apa yang telah ada (actually self) dan apa yang semestinya ada (ideal self) justru menjadi motivasi untuk mendorong dirinya menjadi lebih baik untuk meraih kebahagiaan .

No comments:

Post a Comment