Friday, December 9, 2011

Senyum Merupakan sebuah Pengasuhan Diri



Kehidupan dari awal hingga akhir merupakan sebuah cermin, yang dicerminkan adalah bayangan diri kita, ketika kita sedang menangis, kehidupan juga ikut menangis, ketika kita sedang tersenyum, kehidupan juga ikut tersenyum.

Kehidupan itu seyogianya tidak berhutang barang apapun kepada kita, maka dari itu kita tidak perlu selalu bercemberut muka. Seharusnya penuh rasa berterima kasih terhadap kehidupan, setidaknya, kehidupan telah memberikan kita jiwa, telah memberikan ruang hidup kepada kita.

Tersenyum adalah suatu sikap kita pada kehidupan ini yang tidak ada hubungannya dengan keadaan, kedudukan dan kaya atau miskin seseorang. Seorang jutawan kemungkinan bisa bermurung sepanjang hari, sedangkan seorang miskin mungkin memiliki perasaan hati yang riang gembira. Seorang yang cacat mungkin bisa tenang riang dan penuh harapan, seorang yang keadaan ekonominya lancar mungkin bisa terlihat dengan kening berkerut cemas, tetapi sebaliknya seseorang yang sedang dalam kesulitan ekonomi justru tampak diwajahnya penuh senyum……


Perasaan hati seseorang terpengaruh oleh keadaan lingkungan, hal tersebut adalah wajar, tetapi Anda bercemberut muka, sepertinya sedang memiliki dendam yang sangat dalam dengan orang lain, sikap ini tidak akan mengubah apapun dari keadaan yang tidak menguntungkan yang Anda alami itu.

Sebaliknya, jika Anda dengan tersenyum melewati kehidupan ini, hal tersebut bisa menambah daya keakraban, orang lain lebih bersedia dan senang bergaul dengan Anda, kesempatan baik yang Anda peroleh juga akan jauh lebih banyak.

Hanya orang yang dalam hatinya terang bagaikan sinar matahari, baru bisa merasakan sinar matahari yang sesungguhnya. Jikalau Anda sendiri sering mencemberutkan muka, maka bagaimanakah hidup ini bisa Anda rasakan indah? Kehidupan dari awal hingga akhir merupakan sebuah cermin, yang dicerminkan adalah bayangan diri kita, ketika kita sedang menangis, kehidupan juga ikut menangis, ketika kita sedang tersenyum, kehidupan juga ikut tersenyum pula.

Tersenyum keluar dari lubuk hati, tidak menyombongkan juga tidak merendahkan diri, juga bukan memperdaya golongan yang lemah, juga bukan sanjungan bagi mereka yang kuat. Senyuman yang dipergunakan untuk menyanjung-nyanjung itu adalah suatu senyuman yang palsu, dan kedok itu tidak akan bertahan lama, begitu telah tercapai tujuan dan tidak diperlukan lagi, mereka pasti akan menanggalkan topeng itu, dan muncullah wajah mereka yang asli.

Tersenyum itu tidak punya maksud tertentu, tidak peduli tehadap atasan, maupun terhadap penjaga pintu, senyuman itu akan sama semuanya. Tersenyum adalah menghargai orang lain, bersamaan dengan itu juga adalah penghargaan terhadap kehidupan. Tersenyum itu sebenarnya ada "balasannya", hubungan antara manusia dengan manusia seperti keseimbangan kekuatan yang dikatakan dalam ilmu fisika, bagaimana Anda terhadap orang lain, orang lain akan bagaimana menghadapi Anda, semakin banyak Anda tersenyum kepada orang lain, semakin banyak pula orang lain yang tersenyum terhadap Anda.

Ketika orang lain salah tafsir terhadap diri kita, kita bisa memilih marah besar, juga boleh memilih tersenyum dengan berlega hati. Umumnya kekuatan senyuman bisa lebih besar, karena senyuman itu bisa mengguncangkan sanubari pihak lain, bisa memunculkan kelapangan dada dan kemurahan hati kita, yang dapat membuat pihak lain merasakan kejelekan dan ketidak berartian dirinya.

Yang jernih tetap jernih, yang kotor tetap kotor. Kadang kala penjelasan yang berlebihan, dan perselisihan itu tidak dibutuhkan. Kepada mereka yang membuat onar tanpa alasan, atau dengan sengaja menjelek-jelekkan orang, berikanlah mereka sebuah senyuman, sisa permasalahannya biarkanlah waktu yang membuktikan.

Saat itu, ada orang yang selalu mengatakan teori dari Einstein itu salah, serta mengatakan bahwa hal itu telah dibuktikan oleh gabungan dari seratus ilmuwan, setelah Einstein mengetahui permasalahan ini, dia hanya tersenyum dengan hambar serta berkata, seratus ilmuwan? Perlu sekian banyak orang? Asalkan bisa membuktikan bahwa saya benar-benar salah, satu orang ilmuwan sudah cukup.

Teori dari Einstein itu mengalami ujian dari waktu ke waktu, tetapi mereka yang tidak setuju dengan teori itu justru dikalahkan hanya oleh sebuah senyuman.

Senyuman yang keluar dari dalam lubuk hati, tidak bisa dibuat-buat. Dengan mempertahankan sikap hati "tersenyum", maka hidup ini akan menjadi lebih indah. Di dalam kehidupan ini setiap orang dapat menemui kekandasan dan kegagalan, serta kesalah pahaman, hal tersebut sangatlah normal sekali, jika ingin jalan kehidupan ini rata bagaikan jalan raya, maka pertama-tama kita harus membersihkan segala gangguan yang berada di dalam hati. Pada hakekatnya tersenyum itu adalah kasih, manusia yang mengerti akan kasih, pasti bukanlah manusia biasa.

Tersenyum adalah sebagai kartu nama kehidupan yang paling bagus, ada siapakah yang tidak berharap bisa bergaul dengan orang yang riang dan penuh harapan serta ingin maju? Tersenyum bisa memberikan kepada kita suatu keyakinan, juga bisa memberikan suatu keyakinan kepada orang lain, dengan demikian bisa membangkitkan kekuatan laten dengan lebih baik.

Tersenyum merupakan bahasa yang terbaik dalam pertemanan, memperlihatkan sebuah senyuman yang wajar, melampaui beribu-ribu kata, tidak peduli itu adalah pertemuan yang pertama kali, atau kenalan yang sudah lama, senyuman bisa mendekatkan jarak antara manusia dengan manusia, dapat membuat antara satu dengan yang lain merasakan kehangatan yang berlipat.

Tersenyum adalah suatu pengasuhan diri, juga adalah suatu pengasuhan diri yang sangat penting, pada hakikatnya senyuman adalah keramah-tamahan, adalah penyemangatan dan menghangatkan sanubari. Orang yang benar-benar mengerti akan senyuman, akan selalu mudah mendapatkan kesempatan yang lebih banyak dari pada orang lain, selalu akan mudah mendapatkan kesuksesan

No comments:

Post a Comment