Showing posts with label Renungan Qalbu. Show all posts
Showing posts with label Renungan Qalbu. Show all posts

Wednesday, March 23, 2016

Mengenalkan Kata Maaf dan Memaafkan



Kata maaf kadang mudah diucap tapi sering hanya di mulut saja. Padahal, keikhlasan memaafkan akan jauh lebih membahagiakan. Untuk itu, buah hati kita perlu diajarkan lebih dini untuk memberi dan meminta maaf dengan segera.
Suatu kali, tiba-tiba buah hati kita mengadu. Mereka mengaku telah membuat teman mereka menangis, karena sebelumnya teman mereka telah lebih dahulu melakukan hal yang sama dengan apa yang mereka lakukan. Mereka hanya membalas. Mendengar apa yang mereka katakan, apa yang harus kita lakukan? Mengajak mereka mengurai masalah, lalu jika ternyata mereka yang salah lantas mengajak mereka ke rumah temannya? Atau membiarkan saja, karena kita pikir itu bukan kesalahan buah hati kita, tapi kesalahan temannya juga?
Masalah ini sebenarnya hanya masalah kecil. Tapi justru belajar dari masalah kecil seperti ini kita bisa masuk pada pembahasan yang lebih besar. Yaitu pembahasan tentang bagaimana meminta maaf dan memaafkan dengan setulus hati. Bagaimana kata-kata maaf bukan hanya hadir di permukaan saja, tapi benar-benar merasuk ke dalam hati.
Tapi apa untungnya meminta maaf dan memaafkan sepenuh hati? Untungnya adalah anak-anak diajarkan untuk melupakan apa yang sudah berlalu dan memulai segala sesuatunya tanpa perlu menengok ke belakang lagi.
Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai orangtua untuk membuat anak-anak kita tahu bagaimana meminta maaf dan memberi maaf dengan cara yang baik dan benar, sehingga tidak ada luka dari pihak lawan dan juga dari pihak mereka?
1. Memaafkan Itu Penting Atau Tidak?
Memaafkan tentu saja tidak akan mudah dipahami bila kita tidak mengarahkan arti pentingnya memaafkan. Anak-anak di rentang usia mana pun ketika dekat dengan kita, akan menganggap kita adalah teladan untuk mereka. Maka ketika memaafkan itu kita anggap penting untuk anak-anak dan menjadi sesuatu yang berharga, tentu ada tahapan yang memang harus kita lakukan untuk mereka.
Kita tidak bisa sekedar berkata, “Kamu harus minta maaf.” Atau, “Kamu harus memaafkan.” Tapi kita harus memberi contoh sehingga mereka paham kenapa mereka harus melakukan hal itu. Contoh itu cepat sekali akan meresap kepada mereka bila contoh itu datangnya dari kita. Misal, tidak sadar kita menyakiti perasaan pengasuh anak-anak di rumah. Lalu kita langsung meminta maaf pada si pengasuh. Sehingga anak paham bahwa meminta maaf itu penting dan tidak boleh ditunda.
2. Lakukan Dari Hal Terkecil
Mengajarkan memaafkan yang paling efektif adalah dari rumah kita sendiri dan dari hal-hal yang paling kecil, bahkan harus dimulai dari hal-hal yang justru sering kita sepelekan. Hal-hal kecil itu akan lebih efektif lagi bila bukan sekadar dari apa yang mereka lihat. Tapi bersentuhan langsung dengan mereka.
Ketika kita tidak sengaja menginjak kaki mereka ketika sedang berjalan, kita bisa langsung mengucapkan kata maaf. Atau ketika anak melakukan kesalahan seperti tidak sengaja memecahkan gelas koleksi kita dan mereka sudah minta maaf, kita harus memaafkannya. Dan setelah bicara menjelaskan, harusnya dianggap selesai. Tidak perlu mengungkit-ungkit lagi sehingga anak menjadi terluka karenanya.
3. Coba di Lingkungan Pergaulan
Setelah kita berhasil memasukkan makna kata maaf dan memaafkan, maka langkah berikutnya adalah menjajal dalam pergaulan mereka sehari-hari. Sebab, anak-anak kelak harus hidup di luar, jauh dari kita.
Untuk itu, pantau anak-anak dalam caranya berinteraksi dengan teman-temannya. Di rentang usia balita pasti akan jauh lebih mudah memantaunya. Sebab pada rentang usia itu mereka sedang belajar bagaimana caranya berinteraksi dengan teman-teman. Ketika kita melihat mereka melakukan kesalahan, jangan tunda untuk mengajarkan mereka meminta maaf. Kita ajarkan mereka untuk mengulurkan tangan minta maaf pada temannya. Dan ajarkan temannya juga untuk menerima maaf darinya. Biasanya tindakan seperti itu akan mudah ditiru oleh anak yang lain.
4. Memaafkan Itu Artinya Aktif
Buah hati kita tentu tidak akan paham apa makna memaafkan secara aktif, bukan pasif. Sebab, banyak dari kita sebagai orangtua kerap memaafkan orang lain itu secara pasif. Begitu kita terluka, kita memaafkan secara mulut, tapi tidak secara hati. Hubungan kita renggang serenggang-renggangnya, bahkan mungkin kita tidak mau lagi mengenali orang itu.
Memaafkan secara aktif berbeda. Ketika kita ingin mengajarkan memaafkan secara aktif, artinya ketika buah hati kita bermusuhan dengan temannya, maka kita menjadi saluran untuk mereka agar saling bermaafan. Bahkan ketika buah hati kita masih tidak mau berteman dengan temannya itu, kita sebagai orangtua bisa berlaku aktif dengan mengajak anak kita ke rumah temannya itu.
5. Sedalam Apakah Luka Itu?
Memaafkan tentu saja berkaitan dengan seberapa dalam efek ketika orang lain menyakiti perasaan anak kita. Ketika anak kita berkata bahwa ia tidak mau lagi berteman dengan temannya, kita sebagai orangtua harus tahu dan bertanya apa penyebabnya. Seperti apakah perlakuan temannya itu hingga mereka tidak mau lagi berteman?
Akan menjadi mudah bila mereka bercerita sehingga kita bisa mengarahkan pada mereka. Luka yang dalam bisa terjadi karena anak-anak memang tidak pernah dipersiapkan untuk terluka atau anak-anak tidak pernah diajarkan untuk melupakan luka itu.
6. The Best Thing is Communication
Komunikasi memang selalu menjadi efek terpenting dalam tumbuh kembang hubungan kita dengan anak-anak dan hubungan anak-anak dengan teman-temannya. Jalinlah komunikasi yang baik dengan anak-anak dan biarkan mereka bebas bercerita tanpa takut salah dengan kita. Sehingga, ketika kita ada sesuatu hal yang melukai anak-anak kita dapat cepat mengetahuinya.

Semoga, dengan beberapa kiat tersebut, maaf dan memaafkan bukan lagi menjadi perkara yang sulit lagi.
Mari, biasakan diri kita sendiri untuk saling memaafkan, sehingga anak-anak pun akan meneladani tindakan kita agar hidupnya kelak penuh kebahagiaan, karena lapangnya hati akibat sudah terbiasa memaafkan.

Wednesday, January 13, 2016

Koreksi Diri Sendiri Dulu


Alkisah, ada seekor burung hantu yang menempuh perjalanan siang dan malam untuk pindah ke hutan lain.


Dalam perjalanan panjang ini,ia bertemu dengan seekor burung perkutut. Si Perkutut heran melihat burung yang begitu tergesa-gesa. Katanya, “Hai, Burung Hantu! Anda hendak kemana?”

Burung hantu berputar sejenak di angkasa, lalu menjawab, ”Aiih! Terlalu sulit untuk bergaul dengan para tetangga daerah ini. Anda kan tahu, saya memiliki bakat bernyanyi, jika malam tiba, saya sangat suka bersenandung. Tapi, yah… sepertinya mereka semua tidak suka mendengar suara saya. Apa boleh buat? Lebih baik saya meninggalkan tempat ini dan pindah ke hutan lain!”

Mendengar hal ini, burung perkutut berkata, ”Burung Hantu, Anda kan telah tinggal di sini puluhan tahun lamanya. Semua tetangga kiri dan kanan telah mengenal Anda. Mengapa harus pindah ke tempat asing..?”

Perkutut melanjutkan, “Menurut saya, lebih baik Anda ubah sedikit nada suara nyanyian Anda. Para tetangga pasti akan menyukainya. Jika tidak begitu, kemana pun Anda pergi, sama saja. Anda akan tetap tidak disukai.”

Mendengar penuturan burung perkutut, dengan malu burung hantu menundukkan kepalanya. Tak lama, ia terlihat terbang kembali menuju rumahnya di hutan Lama.

Jika Anda kerap kali mengalami perselisihan dengan orang-orang di sekitar atau merasa rekan/teman sering mempersulit diri Anda, sebaiknya Anda mencoba mengoreksi diri sendiri—bukannya selalu menyalahkan orang lain.

Apabila kita selalu melemparkan semua kesalahan pada lingkungan sekitar serta tidak mau merenungi diri sendiri, maka sama halnya dengan si burung hantu. Ke mana pun kita pergi, tidak akan pernah disukai...

Semoga bisa menjadi inspirasi..

Thursday, December 17, 2015

Malu Meminta Kepada Allah



“Terkadang sang ‘arif merasa malu jika mengajukan kebutuhannya kepada Tuhannya, semata karena merasa cukup dengan kehendakNya. Bagaimana tidak malu, jika ia harus mengungkapkan kebutuhannya pada sesama makhluk?”

Menyampaikan hajat-hajatnya kepada Allah Swt, bagi si Arif sesungguhnya sebagai bentuk ‘ubudiyah, bukan sebagai permintaan atau penyodoran masalah. Sebab kehendak Allah Swt tetap mendahului permintaan dan doanya. Sehingga mereka lebih memasrahkan diri pada kehendakNya dibanding permintaan kebutuhannya.

Tentu jika mereka malu mengungkapkan kebutuhan hidupnya, ia pasti lebih malu jika mengungkapkan kebutuhannya pada sesama makhluk.

Inilah cara mereka menjaga adab, dan sebagai sang arif ia terus menjaga rasa fakirnya kepada Allah Swt, bukan pada sesama, karena Allah-lah Yang Maha Kaya dan Maha Terpuji.

Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq ra mengatakan, “Tanda-tanda ma’rifat adalah anda tidak meminta kebutuhan anda, baik kebutuhan dalam jumlah kecil maupun besar, kecuali semua itu dari Allah Swt, sebagaimana Nabi Musa as, rindu untuk melihat Allah Swt, ia berdoa, "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada  Engkau." (QS. Al-A’raf 143), dan suatu ketika ia sangat butuh roti, lalu dia berkata, “Ya Tuhan, sesungguhnya diriku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al Qashash 24)

Sang arif lebih sibuk untuk dzikir kepadaNya dibanding memintaNya, sebagaimana dinyatakan oleh Allah Swt dalam hadits Qudsy. Namun, ketika para arif berdoa dan meminta, hanya semata sebagai wujud kehambaannya, bahwa ia harus menjaga kefakiran, rasa hina dina, ketakberdayaan dan ketakpampuan di hadapanNya.

Dalam konteks inilah Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily ra, mengatakan, “Aku tak mampu memberi manfaat untuk diriku sendiri, bagaimana aku tidak putus asa mencari manfaat orang lain bagi diriku? Aku hanya berharap kepada Allah Swt untuk memberi manfaat pada selain diriku, bagaimana aku tidak berharap kepadaNya untuk manfaat diriku? Inilah kimia dan remuk redam, yang siapa pun meraihnya ia meraih kekayaan yang tiada lagi rasa butuh setelah itu, kemuliaan yang tiada lagi rasahina menyertainya, dan infak baginya yang tiada henti. Inilah kimia bagi mereka yang faham dengan Allah Ta’ala.”

Tentu saja, mereka yang faham Allah, akan cukup bersama Allah sehingga dia kaya raya jiwanya, ia mulia bersama Allah karena kebergantungan pada kemuliaanNya.

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily ra, mengisahkan, “Suatu hari ada orang yang menemaniku, dan ia sangat membebaniku. Lalu suatu hari aku membuatnya mudah, sehingga ia jadi gamang.

Kukatakan padanya:

“Hai ananda, apa kebutuhanmu dan kenapa kamu menemaniku?”

“Wahai Tuan, ada yang mengatakan padaku kalau Anda sangat pandai dalam bidang Ilmu Kimia. Aku ingin belajar padamu soal itu,” kata orang ini.

“Kamu benar, dan benar pula kawanmu yang bicara padamu itu. Tapi janganlah, kau terima…” kataku.

“Tidak, aku akan menerimanya…”

Lalu kukatakan padanya, “Aku melihat makhluk ini ada dua kelompok. Kelompok pertama adalah para musuh, dan kedua adalah kekasih-kekasih. Ketika aku melihat para musuh, aku akhirnya tahu bahwa mereka tidak mampu mencederai diriku, yang Allah Swt memang tidak menimpakan padaku. Lalu aku putuskan pandanganku pada mereka. Kemudian aku memandang orang-orang tercinta, nyatanya mereka pun tidak ada yang mampu memberi manfaat padaku, dimana Allah Swt memang tidak memberi manfaat padaku. Lalu aku pun memutuskan pandanganku pada mereka, dan aku hanya bergantung pada Allah Swt.”

Tiba-tiba ada kata membisik padaku, “Kamu tidak akan sampai pada hakikat perkara ini, sampai kamu memutuskan harapanmu dari Kami, —sebagaimana kamu memutuskan dari selain Kami, agar orang lain itu memberimu,—  kecuali apa yang telah Kami takdirkan padamu di zaman Azali.”

Maka dalam kesempatan tertentu beliau juga berkata, ketika ditanya mengenai Kimia, “Keluarkanlah makhluk dari hatimu, dan putuslah harapanmu pada hal-hal yang bukan bagianmu.”

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily ra menegaskan, “Standar pemahaman hamba pada Tuhannya, bukan terletak pada banyaknya amal, bukan pula pada langgengnya wirid, namun standarnya adalah sejauh mana ia memahami nur-Nya, dan kefahamannya akan sikap merasa cukup pada Tuhannya, dan semangat hatinya padaNya, kemerdekaannya dari belenggu tamak, lalu berhias dengan hiasan wara’. Karena dengan itu semua amal-amal jadi bagus dan perilaku batin jadi bersih,  sebagaimana firmanNya, “Kami jadikan apa yang ada di muka bumi sebagai hiasan baginya, agar Kami menguji, siapa diantara mereka yang terbaik amalnya.” (QS Al-Kahfi: 7)

Thursday, January 8, 2015

Spiritualitas VS Rutinitas


Malam itu suasana sepi, udara dingin karena sejak sore hujan turun tanpa henti sampai dengan azan Isya. Kebetulan bukan malam wirid (Selasa dan Jum’at), jadi di mesjid disamping rumah Guru Sufi jamaah shalat Isya hanya sekitar 40 orang yaitu anak muda yang memang tinggal bersama dengan Guru Sufi untuk belajar ilmu tarekat. Setelah azan isya, Guru Sufi masuk ke dalam mesjid lewat pintu dekat qubah, dan murid-murid terkejut karena selama ini jarang Guru shalat jamaah bersama mereka, sudah 3 bulan Guru berada di luar kota untuk berdakwah, menjadi imam shalat biasanya sesame mereka bergantian.
Shalat Isya malam itu terasa beda, tenang, sejuk dan beberapa orang jamaah menangis ketika Guru Sufi mulai membaca surah al-fatihah. Seperti shalat isya pada umumnya, 4 rakaat dilewati seperti biasa sampai dengan salam. Setelah selesai shalat, ada suatu yang beda dan mereka saling melirik satu sama lain. Mereka semua mendengar suara azan di mesjid luar, padahal azan isya sudah lama selesai. Salah seorang jamaah melihat jam yang terpampang di sudut kanan mesjid, dan dia kaget karena jam menunjukkan sudah masuk waktu shalat subuh. Berarti azan yang terdengar di mesjid sekitar itu adalah azan subuh. Bagaimana mungkin sudah masuk subuh, padahal mereka baru saja shalat Isya bersama Guru Sufi, paling sekitar 15 menit lamanya.
Selesai berdoa, Guru berhadapan dengan para murid, kesempatan mereka untuk menyalami Beliau dan murid-murid berebut menyalami Gurunya. Salah seorang murid ketika salaman memberanikan diri bertanya kepada Gurunya, “Guru, berarti kita tadi baru saja melakukan Mikraj ya?”, Guru kemudian mengangkat jari telunjuk ke bibir, “ssst…”, “Apa yang kalian alami mala mini tidak usah diceritakan, cukup untuk kalian saja”. Akhirnya Guru Sufi melanjutkan mengimami shalat subuh beserta murid-muridnya dengan wudhuk shalat Isya, peristiwa yang terasa 15 menit ternyata berlangsung selama lebih kurang 8 jam.
Saya bersyukur bisa mendengar cerita langsung dari orang yang mengalami peristiwa lebih kurang 30 tahun lalu, peristiwa shalat Isya yang luar biasa, mengandung nilai-nilai spiritual dan mistik Islam. Nabi mengatakan bahwa shalat sebagai mi’rajul mu’minin (Hadist Riwayat Bukhari) yakni Mi’raj orang yang beriman. Shalat pada awalnya adalah peristiwa spiritual, sarat makna dan nilai, seiring berjalan waktu menjadi sebuah rutinitas layaknya mandi, makan dan berpakaian yang dilakukan sehari-hari dan di ulang-ulang.
Bagaimana shalat yang merupakan kegiatan spiritualitas bisa tetap mempunyai nilai yang sama? Diperlukan seorang yang mempunyai kontak langsung dengan Rasullullah SAW sebagai orang yang pertama sekali menerima perintah shalat, kontak langsung secara rohani tersebut akan membuka alam Rabbaniyah, sehingga ketika shalat rohani orang yang melaksanakan shalat bisa langsung sampai kehadirat Allah SWT, walaupun shalat dilakukan dalam jumlah banyak tetap menjadi nilai spiritual disana. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang kamu apabila dia berdiri waktu shalat ia berbicara dengan Tuhannya atau Tuhan ada antara dia dengan kiblat”. Tanpa menyadari kehadiran Allah SWT diantara dia dengan kiblat, maka shalat akan menjadi sebuah rutinitas, hanya memenuhi kewajiban semata.
Hilangnya nilai spiritual dalam ibadah tidak semata karena sering melakukan tapi memang unsure-unsur Ketuhanan telah hilang dalam ibadah terebut karena tidak menggunakan metode yang tepat. Sebagai contoh ibadah haji, hakikatnya adalah ziarah ke makam Nabi, berjumpa dengan Beliau kemudian wuquf (menunggu) kehadiran Allah di padang Arafah. Banyak pengamalan tarekat mengalami peristiwa menakjubkan, ketika mengucapkan salam di makam Nabi, terdengar jawaban dari dalam makam, ketika menunggu di padang arafah, dalam tangisan mereka menyadari kehadiran Allah sangat dekat dengan meraka. Diantara 2 juta orang yang melaksanakan ibadah haji sebagai tamu Allah, berapa orang yang beruntung bisa berjumpa dengan yang mengundang?
Nilai-nilai spiritual dalam ibadah secara perlahan akan hilang diganti dengan nilai rutinitas, apalagi shalat memang dilaksanakan sehari 5 kali, sehingga tidak ada lagi “rasa” disana. Namun bagi hamba Allah yang sudah mengenal-Nya, maka shalat bukan rutinitas, tapi peristiwa penuh keajaiban, karena disitulah saat Allah menerima secara khusus hamba-Nya, berdialog dengan mesra dan disana terjadi transfer power dari alam Maha Dahsyat kepada hamba yang lema dhaif lagi papa, sehingga seluruh tubuh si hamba bersinar terang dan malaikat pun silau memandangnya.
Ketika ibadah telah hilang nilai spiritualitas dan tertinggal hanya rutinitas tanpa makna, saatnya untuk memeriksa kembali ibadah yang kita lakukan, memperbaiki kekurangannya. Saatnya kita belajar kepada orang yang bisa mentransfer nilai-nilai spiritual dalam ibadah langsung dari Rasulullah SAW, orang tersebut tidak lain adalah Para Guru Yang Mulia, Pewaris Rasulullah SAW.

Nasib mu ditentukan oleh Variable

Saya meyakini bahwa Tuhan menciptakan dunia secara bertahap dan melewati proses yang panjang, sesuai dengan penemuan para ilmuan bahwa bumi terbentuk dalam rentang waktu milyaran tahun. Proses sempurnanya bumi sehingga bisa ditempati sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya dan proses tersebut terus berlangsung sampai saat ini. Tentang kemakmuran dan kemiskinan, kebahagiaan dan kemelaratan, hidup dan mati, semuanya sesuai dengan hukum-hukum yang telah dibuat oleh Tuhan di alam ini.
Manusia tidak pernah mempu menciptakan hukum tersebut, tapi dengan kecerdasan yang diberikan Tuhan, sebagian kecil manusia yang mau berfikir kemudian menemukan rahasia kehebatan hukum yang berlaku di alam, makanya hukum tersebut disebut di temukan atau di populerkan, bukan di ciptakan. Sebagai contoh, dari awal sejarah keberadaan manusia di bumi mereka sudah tahu bahwa benda yang dilempar ke atas pasti jatuh kebawah, namun mareka tidak mengetahui rahasia kenapa hal tersebut bisa terjadi sampai suatu saat ada sosok manusia cerdas yang mendapat pencerahan dari Tuhan ketika melihat buah apel jatuh, maka lahirlah apa yang kita kenal sekarang sebagai Hukum Gravitasi. Orang tersebut adalah Isaac Newton.
Hukum-hukum lain juga demikian, karena perenungan dari para ahli berhasil diungkapkan rahasia Tuhan yang tersimpan di alam dan kemudian digunakan untuk kemaslahatan manusia. Hukum-hukum yang ditemukan oleh para ilmuan tersebut kita kenal sebagai hukum fisika.
Sementara di sisi lain, Nabi sebagai orang yang diberi wahyu, dimana tingkat ilmu yang diperolehnya murni langsung dari Tuhan, tentu memiliki tingkat pengetahuan yang sangat tinggi bahwa untuk ukuran zaman setelahnya. Nabi mengetahui hukum-hukum yang berjalan di atas hukum fisika yaitu hukum metafisika. Nabi Musa membelah laut, Nabi Isa menghidupkan orang mati, Nabi Muhammad membelah bulan dan banyak mukjizat lainnya merupakan hasil dari kehebatan ilmu metafisika.
Selama ribuan tahun para Nabi bisa berkomunikasi satu sama lain dalam jarak ribuan mil bahkan bisa berkomunikasi dengan orang yang telah menuju kealam kematian sekalipun itu karena mereka menguasai ilmu metafisika, baru di abad 20 manusia mampu mewujudkan apa yang dilakukan oleh para Nabi dan Wali tersebut setelah berhasil ditemukan Telephone.
Nabi Muhammad SAW dalam beberapa riwayat dikisahkan terkadang diberi gambaran visual oleh Allah dalam bentuk seperti film, sehingga Beliau bisa menceritakan peristiwa yang sudah sangat lama terjadi atau kejadian yang belum terjadi dalam bentuk yang sangat detail, baru kemudian manusia bisa mengerti apa yang dialami Nabi ketika ditemukan teknologi yang bisa merekam visual, yang kita kenal dengan video. Dengan teknologi ini, walaupun kita bukan tergolong orang yang dekat dengan Tuhan, mampu melihat peristiwa masa lalu, dengan menonton film atau video yang menceritakan tentang peristiwa itu.
Bukan hanya berhubungan dengan fisik saja, secara moral juga Nabi memberikan ilmu yang melewati zamannya. Berbuat kebaikan tanpa pamrih, hidup rukun dengan tetangga, menghargai musuh, bahkan nabi memberikan contoh untuk hal-hal yang kecil seperti membuang duri di jalan. Apa yang dilakukan Nabi tersebut merupakan kebenaran universal yang akan bertahan selamanya di dunia ini dan berlaku untuk seluruh umat manusia.
Berhubungan dengan takdir atau nasib manusia, semua berlaku dan berjalan sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Tuhan di alam dan hukum tersebut berlaku secara universal. Kalau hubungan anda baik dengan Tuhan, maka secara otomatis akan mengalir kasih sayang Tuhan kepada anda dan kasih sayang tersebut akan berlimpah pula kepada manusia lain di dekat anda. Singkatnya kalau anda dekat dengan Tuhan, tanpa anda sadari maka manusia akan suka dengan anda karena seluruh manusia pasti suka juga dengan Tuhan yang anda sembah. Kalau anda merasa dekat dengan Tuhan tapi hubungan dengan manusia tidak baik, maka patut dicurigai jangan-jangan anda hanya merasa saja dekat dengan Tuhan atau ada hukum lain yang telah anda langgar.
Pertanyaan menarik, apakah seseorang yang dekat dengan Tuhan itu otomatis termasuk orang baik? Jawabannya Ya dan Tidak. Ya kalau dia disamping beribadah juga memperhatkan hukum-hukum bertetangga, hukum saling berbagi, hukum saling mengasihi, itulah sebabnya Allah menurunkan Syariat atau hukum untuk memudahkan manusia dalam berhubungan dengan sesama. Maka fungsi Nabi adalah untuk memberikan keseimbangan dengan sempurna antara hubungan dengan Tuhan yang bersifat personal dengan hubungan sesama manusia.
Anda bisa saja beribadah dimanapun dan kapanpun, karena Tuhan tidak terbatas oleh ruang dan waktu, akan tetapi Tuhan juga mengatur hukum saling berhubungan diantara sesama manusia, karena itu dibuat rumah ibadah secara bersama, melakukan ibadah secara berjamaah, agar hubungan sesama manusia tetap terjaga. Rumah ibadah yang dibuat dengan tangan manusia tersebut kemudian disepakati sebagai rumah Tuhan, walapun mungkin saja Tuhan belum tentu menerima itu sebagai rumah-Nya.
Sebagai seorang hamba, disamping menjaga hubungan dengan Tuhan, kita juga harus menjaga dengan baik hubungan dengan manusia lain, sebagai syarat menjadi seorang hamba yang sempurna. Ketika manusia menjalani kehidupan di dunia ini sesuai dengan hukum-hukum yang diberikan Tuhan sebagai sebuah anugerah, maka manusia tersebut akan menjadi bahagia dalam kehidupan sekarang dan kehidupan nanti.
Kalau anda seorang pemalas, pemarah, pendendam, penggunjing dan tidak pernah menghargai orang lain, maka secara hukum alam anda akan menjadi seorang pecundang di dunia ini, seorang miskin yang melarat atau andai pun kaya menjadi seorang kaya yang dibenci banyak orang. Sebaliknya kalau anda seorang yang rajin, disiplin, pekerja keras, menghargai orang lain, hubungan baik dengan semua maka keberuntungan akan selalu menyertai anda. Tuhan telah memberikan hukum pasti di alam ini dan Anda yang mengisi variable-variable yang melengkapi hukum tersebut, hukum untuk anda sendiri!.

Saturday, December 20, 2014

KH Sya’roni Buktikan Kesaktian Lafal “Yaa Syakuur”


Suatu hari di tahun 1990-an, KH M Sya’roni Ahmadi mengadu kepada gurunya, KH Bisri Musthofa, ayahanda Gus Mus, tentang keinginan berangkat ke tanah suci yang belum juga terpenuhi. Singkat cerita, KH Bisri Musthofa memberikan trik khusus kepada murid kesayangannya itu supaya keinginan untuk beribadah ke tanah suci segera terwujud. 

KH. Sya’roni pun segera mengamalkan apa yang dipesankan oleh sang guru, yakni salat Tahajjud setiap malam, cukup dua rakaat, membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas. Setelah salam mewirid istighfar 70 kali, selawat nabi 100 kali, serta lafal “yaa syakuur” 1000 kali. KH. Sya’roni benar-benar mengamalkannya dengan istiqamah setiap malamnya. 

Sampai tiba suatu hari, KH. Sya’roni didatangi tamu seorang lelaki muda, gagah dan tampan yang tak dikenal. Rupanya, ia merupakan alumni madrasah Qudsiyyah Kudus. Kepada beliau, lelaki ini mengaku bahwa saat itu tengah menjabat sebagai seorang petinggi kolonel.

Tiba-tiba lelaki tadi bertanya, apakah KH. Sya’roni masih mengajar di Qudsiyyah. Jawabannya “masih”. Lalu kolonel tadi kembali bertanya, “naik apa?”.  KH. Sya’roni agaknya merasa aneh dengan pertanyaan ini, sebab dengan posisi tempat tinggal dan madrasah yang tak jauh, tentu saja tidak ada jawaban lain selain “sepeda,” yang pantas untuk jawaban saat itu.


Tak pernah menyana sebelumnya, setelah mendengar jawaban “sepeda”, kolonel muda itu berujar dengan nada yang amat serius, “Bagaimana kalau Bapak Sya’roni saya belikan mobil?”

KH. Sya’roni terdiam. Betapa berbudinya ‘bekas murid’ yang satu ini. Lama tidak pernah bertemu, kini jauh-jauh mendatangi guru masa kecilnya untuk menawari sebuah mobil gratis. Sebuah mobil yang dimaksud mengganti sepeda tua untuk berangkat mengajar ke madrasah. Cukup geli rasanya mengingat betapa biasanya murid di madrasahnya sering menunggak SPP. Sekarang malah ada murid yang menawari mobil baru gratis. KH. Sya’roni menangis, terharu dengan tingkah kolonel santun ini.

Tak ingin berlama-lama hanyut dalam keharuan, KH. Sya’roni kemudian memutuskan untuk ‘menawar’ bakal hadiahnya.

“Kalau misalkan saya minta ganti selain mobil, bisa nggak?” tawar KH. Sya’roni pada kolonel muda.

“Selain mobil, emm... apa itu?” tanya kolonel.

“Naik haji,” jawab KH. Sya’roni mantab.

“Oh, tentu saja bisa.” 

Jawaban kolonel ini sekaligus menjawab doa KH Sya’roni selama bertahun-tahun. Akhirnya, beliau membuktikan sendiri bahwa lafal “yaa syakuur” yang diijazahkan oleh KH Bisri Musthofa memang mujarab.

Setelah sukses mengamalkan “yaa syakuur” sendiri, beliau mengajak keluarganya untuk turut juga mengamalkannya setiap malam. Dan benar, beberapa tahun kemudian, KH Sya’roni berangkat ke tanah suci untuk yang kedua kali. Beliau diajak oleh seorang aghniya’. Jika yang pertama dulu beliau berangkat sendiri, maka yang kedua ini beliau berangkat bersama istrinya. Dan tentunya, tanpa biaya, berkat “yaa Syakuur”. Begitu, Allah memberikan jalan bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dengan perantara yang kadang tak terduga, termasuk wirid “yaa Syakuur”.

Dan kini, Mustasyar PBNU itu mengajak kita untuk bersama-sama turut juga mengikuti jejaknya, mengamalkan wirid “yaa Syakuur”, agar segera memenuhi panggilan ke Baitullah. Tentu saja, dengan tanpa meninggalkan rangkaian amalan sebelumnya yang juga diamalkan oleh KH. Sya’roni secara tekun dan niat yang ikhlas. 

*) Ditulis berdasarkan mauidhoh hasanah yang disampaikan KH Sya’roni Ahmadi pada peringatan harlah Madrasah NU Mu’allimat Kudus di gedung JHK, Kudus, Rabu Pon/12 Muharrom 1436 H.

Saturday, December 6, 2014

Insya Allah


Beberapa penduduk Mekkah datang ke Nabi Muhammad saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi menjawab, "Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan." Keesokan harinya wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Tentu saja "kegagalan" ini menjadi cemoohan kaum kafir.

Saat itulah turun ayat menegur Nabi, "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini." (QS 18: 24)

Kata "Insya Allah" berarti "jika Allah menghendaki". Ini menunjukkan bahwa kita tidak tahu sedetik ke depan apa yang terjadi dengan kita. Kedua, hal ini juga menunjukkan bahwa manusia punya rencana, Allah punya kuasa. Dengan demikian, kata "insya Allah" menunjukkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan ilahi.


Dari kisah di atas kita tahu bahkan Nabi pun mendapat teguran ketika alpa mengucapkan insya Allah.

Sayang, sebagian diantara kita sering melupakan peranan dan kekuasaan Allah ketika hendak berencana atau mengerjakan sesuatu. Sebagian diantara kita malah secara keliru mengamalkan kata "insya Allah" sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Ketika kita diundang, kita menjawab dengan kata "Insya Allah" bukan dengan keyakinan bahwa Allah yang punya kuasa tetapi sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut. Kita rupanya berkelit dan berlindung dengan kata "Insya Allah". Begitu pula halnya ketika kita berjanji, sering kali kata "insya Allah" keluar begitu saja sebagai alat basa-basi pergaulan.

Yang benar adalah, ketika kita diundang atau berjanji pada orang lain, kita ucapkan "insya Allah", lalu kita berusaha memenuhi undangan ataupun janji itu. Bila tiba-tiba datang halangan seperti sakit, hujan, dan lainnya, kita tidak mampu memenuhi undangan ataupun janji itu, maka disinilah letak kekuasaan Allah. Disinilah baru berlaku makna "insya Allah".

Wednesday, December 3, 2014

FPI dan FENOMENA ISLAM ANYARAN


SALAH SATU fenomena yang muncul menyusul lahirnya gerakan reformasi di Indonesia ialah maraknya kelompok-kelompok Islam minoritas yang beraliran keras atau ekstrem. Secara lahiriah maupun paradigmatik, kelompok-kelompok ini bisa dibedakan dengan arus utama umat Islam Indonesia yang moderat, yang diwakili kalangan NU dan Muhammadiyah. Secara ideologis, kelompok-kelompok tersebut bisa pula dibedakan dari kelompok Islam pendatang baru yang terus bertumbuh, yakni Jamaah Tarbiyah, yang memiliki sayap politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Secara umum atau kasar, kelompok-kelompok Islam garis keras tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian utama. Yakni, pertama, kelompok yang secara ideologis ingin mendirikan negara Islam atau kekhalifahan di Indonesia, dan kelompok yang hanya ingin menegakkan syariat Islam dalam lingkungan NKRI. Kelompok pertama dari sudut ideologis atau paradigmatis lebih tertata secara sistematis. Mereka memiliki agenda atau skala prioritas yang jelas untuk mencapai sasarannya, dengan semacam standar prosedur operasi (SOP) yang jelas dan relatif baku.
Sementara kelompok kedua tidak terlalu ideologis, dan sering tindakannya hanya bersifat insidental, reaksioner, atau eklektik-oportunistik. Walaupun begitu, kedua kelompok tersebut jarang mengalami gesekan dan sama-sama tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI), sebuah forum ormas-ormas Islam yang didominasi kalangan Islam garis keras.
Kelompok pertama, yang lebih ideologis, diwakili antara lain Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Jamaah Islamiyah (JI) alias Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) alias Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Baik JI, MMI, maupun JAT dipakai istilah “alias” karena tokoh utamanya sama, yakni Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dari Pondok Pesantren Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Kelompok kedua, yang lebih merupakan kelompok penekan (pressure group), misalnya direpresentasikan oleh sepak terjang Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Jihad.
Bedanya dengan FPI, Laskar Jihad lebih bersifat temporer, dalam rangka menyikapi konflik horizontal yang mereka pandang mengancam umat Islam. Setelah konflik horizontal selesai, atau dapat diatasi pemerintah, Laskar Jihad dengan sendirinya bubar atau tak lagi terdengar eksistensinya. Sebagian besar mantan anggota Laskar Jihad lalu kembali ke dalam rutinitas dakwah Salafi, sebuah sekte (manhaj) Wahabi yang beraliran konservatif dan keras.
ISLAM ANYARAN
Walaupun memiliki sejumlah perbedaan, namun semua kelompok Islam anyaran atau muslim “pendatang baru” tadi memiliki sejumlah kesamaan. Antara lain, pertama, ialah latar belakang mereka dan, kedua, pemahaman agama mereka.
Secara umum para pendukung atau bahkan juga tokoh gerakan Islam baru tersebut rata-rata atau banyak berasal dari latar belakang keluarga Islam minimalis (abangan) atau bukan pemeluk Islam yang taat (santri). Walaupun Ustad Abu Bakar Ba’asyir sendiri alumni Pondok Gontor dan berasal dari keluarga santri, namun wilayah pengaruhnya gagal menembus basis massa Muhammadiyah dan NU, dan lebih menjangkau komunitas mereka saja, yaitu kalangan Islam anyaran.
Kedua, pemahaman keislaman mereka keras, kaku, rigid, ekstrem, dan cenderung merasa paling benar sendiri (absolute claim of truth). Mereka tak hanya merasa paling benar terhadap entitas nonmuslim, melainkan juga merasa paling benar di antara sesama kelompok Islam. Bahkan dalam aktivitasnya tak segan-segan menggunakan kekerasan atau memaksakan kehendak.
Akibat latar belakang keluarga yang bukan dari pemeluk Islam taat tersebut, maka bisa diduga pemahaman agama mereka pun terbatas. Mereka baru serius belajar agama ketika menempuh pendidikan yang rata-rata di sekolah negeri, bukan di sekolah Muhammadiyah atau di pondok pesantren NU. Kemudian baru mereka melanjutkan masuk ponpes beraliran keras, seperti Ngruki atau ponpes-ponpes Salafi.
Terkait dengan back-ground keluarganya, bisa dipahami jika secara geografis para pendukung kelompok-kelompok ekstrem banyak berasal dari kawasan-kawasan yang secara tradisional justru tidak dikenal sebagai basis kaum santri. Misalnya Solo, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Klaten, dan daerah-daerah lainnya di Jawa Tengah.
Pada masa Orde Lama, kawasan tadi dikenal sebagai basis PNI atau PKI yang secara religius, meminjam kategori antropolog Clifford Geertz, termasuk kaum abangan. Akan tetapi, represi yang dilakukan rezim Orde Baru atas anak turun mereka dan pewajiban pendidikan agama selama Orba, tampaknya telah mentransformasikan anak turun kaum abangan ini menjadi santri-santri baru alias Islam anyaran, atau menurut istilah pengamat politik A. Gaffar Karim dari Fisipol UGM, sebagai “neosantri”.
Berbeda dengan anak turun santri NU atau Muhammadiyah, kaum Islam anyaran tadi tidak memiliki loyalitas tradisional untuk merujuk fatwa ulama NU atau keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam memahami agama. Dengan kata lain, mereka bebas untuk melakukan proses “trial and error” dalam mencari rujukan agama Islam yang dianutnya.
Dalam proses pencarian inilah mereka bertemu para pengajar atau pendakwah Islam ekstrem di sekolah-sekolah negeri atau kampus-kampus umum. Sayangnya, karena keterbatasan bekal atau pemahaman agama, tak sedikit di antara mereka yang menelan mentah-mentah apa saja yang diajarkan para ustad beraliran keras tadi. Mereka tak memiliki kemampuan untuk memfilter atau membantah apa yang disampaikan oleh ustadnya.
Ini berbeda dengan kaum muda yang datang dari latar belakang NU atau Muhammadiyah, atau pernah mengenyam pendidikan di ponpes NU atau sekolah Muhammadiyah. Karena bekal pemahaman agama mereka yang lebih baik, mereka ini memiliki kapasitas membantah atau setidaknya membanding-bandingkan, apa yang disampaikan para pengajar Islam garis keras tadi dengan mazhab, manhaj (aliran), atau tafsir Islam lainnya.
Karena itulah, bisa dipahami, para pegiat Islam garis keras lebih suka merekrut para pengikut dari kalangan Islam abangan atau mualaf, bukan dari mereka yang pernah dididik di lingkungan NU atau Muhammadiyah. Istilahnya, mereka yang datang dari keluarga abangan atau berstatus mualaf (baru masuk Islam) akan lebih mudah dibentuk atau di-sibghah, tanpa banyak protes atau mengeluh. Apalagi metode pengajaran yang digunakan biasanya juga bersifat monolitik, searah, otoriter, dan nyaris tidak menoleransi pemikiran alternatif: suatu hal yang bakal tidak tertahankan bagi anak-anak muda dari NU dan Muhammadiyah yang terbiasa berpikir bebas, kritis, dan demokratis.
Catatan khusus mungkin perlu diberikan kepada FPI. Tak sedikit anggota atau pendukung gerakan ini adalah preman atau mantan preman. Itulah sebabnya, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Sjafii Maarif, pernah menyebut FPI sebagai “preman berjubah”. Apalagi perilaku para anggota FPI sendiri sering anarkis dan gemar menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya kepada kelompok lain. Latar belakang preman atau mantan preman ini sekufu atau selevel dengan Islam abangan, yakni masuk kategori bukan santri atau tidak terlalu religius.
TEORI KONVERSI
Mengapa mereka yang baru memeluk Islam –baik karena sebelumnya nonmuslim maupun muslim tapi hanya Islam KTP— setelah belajar agama justru menjadi pengikut atau pendukung Islam garis keras? Itulah pertanyaan yang semula terngiang-ngiang di kepala saya ketika mengamati gerakan Islam.
Jawabnya, ternyata perilaku para penganut Islam anyaran tadi mirip dengan fenomena orang kaya baru (OKB). Perilaku OKB, yang sebelumnya miskin atau sengsara, biasanya ingin membeli semua barang yang diinginkannya, termasuk yang kadang sebetulnya tidak diperlukannya. Ia seperti melakukan “balas dendam” atas era miskin atau sengsaranya dulu. Mereka membelanjakan semua uangnya untuk membeli barang-barang mewah yang sanggup dibelinya.
Demikian pula para penganut Islam anyaran. Lantaran mereka “dendam” atau merasa sangat bersalah atas masa lalunya yang berlumur dosa, mereka ingin menebusnya dengan cara menjalankan agama secara rigid, kaku, total, bahkan cenderung berlebihan. Mereka ingin mengubur kenangan masa “jahiliah” yang pernah dilaluinya dengan berhijrah ke dalam pemahaman Islam yang kaffah (total) dan sempurna. Bahkan mereka cenderung memaksakan pemahaman agamanya kepada orang atau kelompok lain pula, suatu hal yang justru sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang tanpa paksaan.
Mungkin sesekali mereka pernah mengikuti pengajian ala NU dan Muhammadiyah. Namun karena kurang puas dengan pendekatan NU dan Muhammadiyah yang dianggap terlalu menoleransi penyimpangan (baik bid’ah maupun maksiat), mereka pun akhirnya mengikuti kajian-kajian agama yang lebih keras, yang cenderung merasa paling benar sendiri dan acap membid’ahkan atau bahkan mengkafirkan kelompok Islam yang tak sejalan dengan visinya.
Kecenderungan muslim anyaran tadi ternyata sesuai dengan penjelasan teori konversi. Menurut teori konversi, mereka yang sebelumnya tidak terlalu religius atau tidak terlalu taat menjalankan agamanya, begitu tertarik untuk mendalami agama maka justru akan menjadi penganut agama yang keras atau fanatik.
Dalam kisah sahabat Nabi pun hal ini terbukti. Sahabat Umar bin Khaththab, misalnya, yang sebelumnya tokoh suku Quraisy yang sangat keras menentang dakwah Nabi Muhammad SAW, begitu masuk Islam justru menjadi tokoh Islam yang dikenal keras dan tegas. Beliau dikenal gemar melakukan razia keliling kampung atau kota pula, mirip laskar FPI sekarang ini barangkali. Dalam konteks ini mungkin bisa dipahami pula jika latar pendidikan Habib Rizieq, Ketua Umum FPI, pernah dididik di sebuah sekolah misionaris Kristen. Dan, ironisnya, FPI pula yang kerap terlibat dalam aksi penyerangan rumah ibadah atau sekolah umat Kristiani.
Sementara sahabat Nabi yang lain, Ali bin Abi Thalib, yang dididik Nabi Muhammad sejak kanak-kanak dan menjadi orang yang memeluk Islam pertama kali bersama dengan istri Nabi, Siti Khadijjah, justru menjadi seorang muslim yang lembut dan tidak suka menggunakan kekerasan. Dalam suatu peperangan, misalnya, Ali berhasil menghunus pedang ke leher musuhnya yang seorang Yahudi. Namun, lantaran si Yahudi ini senjatanya terlempar, Ali urung membunuhnya.
Bahkan, ketika si Yahudi meludahi wajah Ali dan mengejek Ali sebagai pengecut karena tidak berani membunuhnya, Ali tetap enggan membunuh walaupun hatinya marah karena diludahi lawan. Justru karena ia marah itulah, Ali kemudian berkata, “Aku tidak akan membunuh karena hawa nafsu . Aku hanya membunuh karena Allah.”
Luar biasanya, justru karena sikap Ali yang lemah lembut dan sangat memegang akhlak jihad atau etika perang dalam Islam inilah yang membuat si Yahudi terharu dan kemudian menyatakan diri memeluk agama Islam…

Thursday, November 20, 2014

Kalian Jangan Hanya Sekedar Menjadi Aksesoris

Suatu hari, menjelang pembukaan suluk, saya bersama 2 teman duduk menemani sambil melayani Guru makan. Hal yang menggembirakan bagi kami murid bisa menemani dan melayani Guru makan, mengatur makanan dan segela kebutuhan Beliau selama makan. Kami biasanya duduk dibawah memandang wajah Guru yang selalu memancarkan semangat. Menyenangkan karena kami diberi kesempatan untuk bisa berbuat kepada Beliau, Guru yang kami sayang dan kami cintai yang telah memberikan banyak kepada kami terutama telah mencerahkan ruhani dan pikiran kami. Seperti biasanya selesai makan Guru suka cerita dan memberikan nasehat baik mengenai Tasawuf maupun tentang kehidupan sehari-hari. Guru sering menanyakan kami satu persatu, tentang kerja, bisnis, keluarga dan lain-lain, kemudian Beliau memberikan nasehat dan jalan keluarnya.
Hari itu wajah Guru kelihatan gembira dan Beliau selesai makan cerita hal-hal yang menyenangkan termasuk cerita lucu yang membuat kami semakin senang. Ketika Guru selesai cerita, suasana hening. Teman seperguran saya memberikan diri bertanya kepada Guru.
“Mohon Ampun Guru, saya mau menanyakan sesuatu..”.
“Silahkan, apa yang mau kau tanyakan” kata Guru.
“Saya heran Guru, orang masuk (belajar) tarekat itu banyak, namun kenapa hanya sedikit orang yang benar-benar ber-iman dan bertahan di tarekat?”.
Sudah menjadi kebiasaan, Guru saya selalu memberikan jawaban yang bijaksana terhadap pertanyaan-pertanyaan muridnya. Dalam pandangan saya, bagi Guru tidak ada pertanyaan yang sulit, hal paling rumitpun dibuat menjadi mudah. Beliau diam sejenak, kemudian berkata :
“Kamu tahu aksesoris, hiasan atau pernak pernik untuk menghias dan memperindah sesuatu?”.
Serempak kami bertiga menjawab, “Tahu Guru!”.
Beliau melanjutkan, “Ambil contoh mobil, disana ada aksesoris, hiasan-hiasan yang membuat mobil itu lebih indah tampilannya dan aksesoris itu biasanya tergantung musim dan mengikuti tren, kalau zaman berubah maka aksesoris itu pun diganti oleh pemiliknya mengikuti musim dan zaman pula”.
Kami bertiga mengangguk-angguk, memang ini kebiasaan dalam tarekat sebagai bagian dari hadap mendengarkan petuah Guru, apakah dipahami atau tidak kami tetap mengangguk. Saya sendiri belum paham sepenuh apa yang dibicarakan Guru, hanya menduga-duga saja dan saya melirik ke teman disamping saya, sepertinya mereka juga mengangguk sebagai bagian hadap bukan karena sudah mengerti.
Kemudian Guru melanjutkan,”Menurut kalian apakah aksesoris itu perlu?”
“Perlu Guru!” jawab kami
“Ya, perlu untuk menambah keindahan, tapi apakah tanpa aksesoris mobil bisa jalan?” Tanya Guru.
“Bisa Guru” jawab kami.
“Benar, tanpa mesin, oli, minyak, ban atau mesin mobil maka mobil itu dipastikan tidak bisa jalan karena itu hal yang pokok dalam mobil”. Kata Guru. Beliau melanjutkan..
“Nah, orang-orang yang menekuni tarekat hanya beberapa hari, ada yang cuma suluk 1 kali atau beberapa kali kemudian menghilang atau bahkan ada hari ini dia belajar kemudian langsung menghilang adalah aksesoris untuk memperindah tarekat, tanpa adanya itu tarekat tetap jalan dan berkembang”.
Kami bertiga diam dan tertunduk, ada perasaan takut dalam hati, apakah saya ini hanya sebagai aksesoris saja yang kemudian hilang ditelan musim? Saya sendiri selalu berdoa agar Tuhan selalu memberikan kesempatan kepada saya untuk tetap bisa bertahan di jalan-Nya yang lurus ini, jalan yang telah dilimpahkan rahmat dan karunia-Nya, jalan para Nabi, Para Wali dan orang-orang shaleh.
Teman saya menangis, kemudian dia berkata kepada Guru, “Guru, tolong diakan kami agar tidak menjadi hanya sekedar aksesoris.”. Guru menjawab, “Kalau kalian kawatir tentang itu menandakan bahwa kalian mencintai Jalan ini dan hampir semua orang yang sampai ketujuan adalah orang yang selalu merasa kuatir sehingga dia selalu waspada, aku selalu berdoa agar kalian bisa dipakai oleh Tuhan”.
“Berdoalah selalu kepada Allah agar kalian “dipakai” oleh Dia, “diper-alat” untuk mengembangkan agama Islam yang mulia ini, untuk apa hidup didunia kalau tidak “dipakai” Tuhan?”
“Jalan yang kalian tempuh ini bukanlah jalan biasa, sudah banyak orang gugur dijalan ini, diperlukan kesabaran dan kesungguhan agar bisa mencapai tujuan. Dan harus kalian ingat bahwa Makrifat itu bukan akhir dari perjalanan, tapi itu hanya hanya AWAL. Kalau Makrifat sebagai ukuran kemenangan, kalian harus ingat bahwa Iblis di zamannya adalah sosok yang paling bermakrifat kepada Allah, namun dia tersingkirkan karena kesombongannya”.
“Hanya burung-burung yang mempunyai sayap lebar yang mampu terbang tinggi, sementara burung kecil hanya bisa terbang rendah dan tidak pernah kemana-mana”.
“Ingat, awal manusia menempuh jalan ini  (Thareqat) akan diberi rahmat karunia yang berlimpah, keajaiban-keajiban diluar kemampuan manusia dan bahkan  tak pernah terpikirkan. Kemudian ketika hamba telah senang, Tuhan akan mengujinya dengan derita-derita agar si hamba tidak terlena dengan keajaiban dan kemegahan alam rohani sehingga tetap fokus kepada Allah SWT”.
“Ingatlah firman Allah, ‘Jangan kau katakan dirimu beriman sebelum Ku coba’. Suatu saat kalian akan diberi cobaan yang tidak pernah terlintas dalam pikiran dan halayan kalian, seakan-akan Tuhan meninggalkan kalian dan doapun menjadi tumpul. Aku beri nasehat kepada kalian, jangan pernah kalian menyalahkan atau mencaci Guru ketika kalian mengalami itu semua”.
Kejadian ini sudah lama terjadi akan tetapi nasehat-nasehat yang diberikan Guru begitu berbekas di hati kami seakan-akan baru tadi Beliau ucapkan dan begitulah sifat Wali Allah itu kalau memberikan pengajaran akan berbekas di hati para muridnya. Setelah memberikan nasehat dan wejangan kepada kami, Beliau berjalan menuju kamar untuk istirahat. Antara ruang makan dan kamar tidur Beliau berhenti sejenak dan berpaling kepada kami, kemudian berkata, “Kalian jangan hanya sekedar menjadi aksesoris!”. Kami bertiga mengangguk sambil menangis dan berdoa kepada Allah agar sepanjang hidup kami terus bisa melayani Guru dengan baik. Semoga Allah Yang Maha Mendengar mengabulkan doa kami, Amin !.

Wednesday, May 7, 2014

Tidak Ada Dzikir Setelah Musyahadah


Apabila seorang murid memulai majelis dzikir sendirian hendaknya tidak diam lebih dahulu sebelum ia berhasil hilang (gaib) dari segala yang wujud di alam. Sebab disyariatkannya dzikir hanya sebagai sarana untuk bisa hadir bersama al-Haq Swt. Maka selama seorang murid masih menyaksikan sesuatu dari alam, berarti ia belum masuk ke hadirat al-Haq. Dan apabila ia sudah masuk ke hadirat dan hatinya juga hadir bersama al-Haq, maka pada saat ini hendaknya diam tanpa bicara. Sebab dzikir secara lafal tidak ada artinya lagi ketika bersamaan dengan kesaksian hamba terhadap al-Haq Swt. Bahkan andaikan hamba yang hadir dengan hatinya ini hendak berdzikir (menyebut) Allah dengan lisannya ia tidak akan sanggup berucap. Sebab hadirat ini hadirat yang penuh kewibawaan, keagungan, dan kebisuan.
Dalam sebagian kesempatan yang dilakukan al-Bashri, Allah Swt. berfirman: “Bilamana engkau belum melihat-Ku maka teruskan untuk selalu men yebut Nama-Ku, dan apabila telah melihatKu maka diamlah. Sebab Aku mensyariatkan kepadamu agar engkau selalu men yebut Nama-Ku hanyalah sebagai sarana (wasilah) untuk bisa hadir bersama-Ku. Karena sesungguhnya Nama-Ku tidak pernah memisahkan Aku.”
Saya pernah mendengar Tuan Guru Ali al-Murshifi berkata:
“Tidak akan terbukakan sesuatu dan anugerah Tuhan dalam hati seorang murid selama dalam pikiran dan hatinya masih berusaha menghadirkan sesuatu dan alam. Sebab terbukanya anugerah dalam hati hanyalah untuk orang yang telah menyaksikan al-Haq Swt. dengan hatinya dan hilang dan segala sesuatu selain al-Haq.”

Maka bisa diketahui, bahwa tidak sepantasnya seorang murid memutus majelis dzikir sebelum ia berhasil gaib (hilang) dari alam.
Sebab orang yang telah memutuskan diri dan majelis dzikir sebelum berhasil gaib maka seakan-akan tidak pernah mengingat Allah sedikit pun, dilihat dari buah yang dihasilkan dalam peningkatan spiritual, sekalipun hal itu sudah dicatat sebagai amal baik. Oleh karenanya, asy-Syibli mengatakan: “Barangsiapa mengingat (berdzikir) Allah secara hakikat maka ia akan lupa segala sesuatu yang ada di sekiranya.” Sementara itu al-Junaid mengatakan: “Barangsiapa menyaksikan makhluk maka tidak akan melihat al-Haq, dan barangsiapa menyaksikan al-Haq, maka tidak akan melihat makhluk kecuali ia termasuk orang yang sangat sempurna.”
Az-Zafi —rahimahullah— mengatakan: “Setiap dzikir yang waktunya tidak lama, ibarat makanan yang tidak bisa mengenyangkan.” Ia juga pernah mengatakan, “Diantara adab berdzikir, hendaknya orang yang berdzikir tidak diam lebih dahulu selama ia masih merasakan kenikmatan berdzikir. Dan apabila sudah merasakan kejenuhan maka adabnya adalah diam.” Demikian pula dimakruhkan (tidak disuka) makan lagi setelah ia merasa kenyang, dan melakukan shalat setelah kenyang yang bisa menghilangkan kekhusyu’an, kecuali setelah mencernanya dengan memperbanyak dzikir. Sebab anggota tubuh akan menjadi maksiat dengan tidak menghadap kepada Allah secara sempurna. Maka ibadah ini sama seperti ibadah orang yang dipaksa, sebagaimana tidak diterimanya keislaman seorang kafir dzimmi yang dipaksa memeluk Islam, maka demikian halnya dengan ibadah orang yang terpaksa.
APAKAH SEORANG MURID MENJADIKAN WIRID-NYA BERMACAM-MACAM?
Dari sini Nabi saw mensyariatkan bermacam-macam wirid untuk hamba. Maka barangsiapa merasa jenuh dengan suatu wirid, maka ia bisa pindah ke wirid lain, sekalipun wirid yang kedua ini kurang utama. Andaikan seorang hamba tidak memiliki kejenuhan, tentu Nabi tidak akan memberi benmacam-macam wirid, akan tetapi beliau hanya akan memberi satu wirid yang terus-menerus sebagaimana malaikat. Maka pahamilah!
KAPAN MURID MELIPAT KEDUDUKAN SPIRITUAL (MAQAMAT)-NYA?
Tuan Guru Ali al-Munshifi berkata: “Apabila seorang murid berdzikir kepada Tuhannya dengan penuh kegigihan, maka kedudukan spiritual (maqamat)-nya akan segera terlipat dan tidak terlalu lamban. Barangkali ia hanya akan menempuhnya dalam waktu satu jam apa yang biasanya ditempuh orang lain dalam waktu sebulan atau lebih.” Ia juga mengatakan: “Seorang salik (penempuh jalan Tuhan) yang berdzikir ibarat burung yang terbang bersungguh-sungguh untuk mencapai hadirat kedekatan. Sedangkan seorang salik yang tanpa bendzikir, ibarat orang lumpuh yang sesekali merangkak kemudian berhenti lagi, sementara jarak yang harus ditempuh sangat jauh. Barangkali orang yang menempuh perjalanan seperti ini akan menghabiskan seluruh usianya dan belum juga sampai pada tujuannya.”
Al-Junaid —rahimahullah— bila diminta seorang murid untuk mendoakannya, maka ia berkata: “Saya memohon kepada Allah agar Dia menunjukkan anda kepada-Nya melalui cara yang paling efektif.” Hal itu dilakukan agar api kejauhan akan segera padam, dan berharap bisa menyaksikan hadirat al-Haq Azza wa Jalla sekalipun hanya sekejap sebelum kematiannya.
Tuan Guru Ali al-Munshifi mengatakan: “Diantara adab para jamaah apabila berdzikir bersama guru maka mereka tidak boleh menerjang isyarat sang guru. Apabila sang guru memberi isyarat mereka untuk diam, maka hendaknya salah seorang dari mereka tidak meneruskan berdzikir, selagi perasaan inderawinya masih berfungsi. Sebab bila ia meneruskan berdzikir sementara ia belum bisa gaib dari para jamaah yang hadir maka dzikirnya adalah tindakan kemunafikan (riya’) yang tercampur dengan ketidaksopanan. Sebab seorang guru tidak akan berkata kepada mereka, ‘Diam!’ kecuali setelah minta izin kepada al-Haq Swt. akan hal itu dengan cara yang sudah dimaklumi di kalangan kaum sufi. Sedangkan melanggar izin dari al-Haq termasuk keluar dari adab, yang mengakibatkan murka.”

Wallahu a’lam